Energi Nuklir, Sains dan Teknologi, Sosial Politik

Jika Bangsa Lain Mampu, Kenapa Kita Tidak?

“Orang Indonesia agak lebih ceroboh daripada orang Jepang,”

Itulah alasan yang dikemukakan kata Ketua Umum Golkar, Jusuf Kalla ketika menyatakan bahwa partai yang dipimpinya tidak mendukung pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir sebagai sumber energi alternatif di Indonesia. Hal ini disampaikannya pada forum diskusi ‘Pengusaha Bertanya, Parpol Menjawab’ di Hotel Four Season, Senin 16 Februari 2009

Membaca artikel ini saya jadi terheran – heran. Bagaimana bisa seorang wakil presiden yang juga seorang Ketua Umum sebuah Partai besar dan sekarang menjadi Seorang Calon Presiden meremehkan kemampuan SDM bangsanya sendiri?

Mungkin Bapak yang terhormat kita ini , belum mengetahui bagaimana putra bangsanya telah berpengalaman 50 tahun lebih mengelola Reaktor Nuklir dengan standar disiplin dan keselamatan tinggi, dan juga telah lebih dua puluh tahun yang lalu putra bangsa kita berhasil menunjukkan kemampuannya mengoperasikan dan merawat Reaktor Serba Guna dengan daya 30 MW yang pada saat itu merupakan reaktor tercanggih di belahan bumi bagian selatan.

Hingga saat inipun dapat dilihat bahwa putra bangsa senditi terbukti mampu mengoperasikan 3 reaktor nuklir di indonesia selama bertahun – tahun dengan bersih dan belum memiliki catatan buruk mengenai kecelakaan nuklir yang membahayakan lingkungan dan masyarakat. Sudah ada pula ribuan aplikasi nuklir yang dipakai di bidang kesehatan seperti pada proses radiasi kanker dan teknik isotop untuk pengembangan obat. Ini belum Ratusan aplikasi nuklir yang dipakai di bidang industri seperti dalam proses desalinasi air, pemuliaan tanaman, dan banyak lagi.

Golkar, kata dia, memperhatikan reaksi masyarakat Muria. Apalagi, Pulau Jawa merupakan wilayah yang rawan gempa bumi. Sehingga, keamanan dan keberlangsungan pembangkit listrik tersebut tidak terjamin.

“Partai Golkar sekali lagi tidak setuju pembangunan reaktor nuklir ituuntuk sekarang ini. Kalau nanti sudah disempurnakan, boleh saja,” ujarnya.

Alasan berikutnya yang dikemukakan Bapak Capres kita ini mengindikasikan bahwa PLTN yang beroperasi di dunia sekarang ini kurang aman, sehingga Indonesia baru boleh membangun PLTN setelah ditemukan teknologi yang benar-benar aman.

Lagi – lagi sungguh ironis, padahal di seluruh dunia telah ada 436 reaktor nuklir yang sekarang mensuplai kebutuhan energi listrik negara tersebut dan beroperasi dengan aman dan selamat. Ini belum lagi 45 PLTN baru yang sedang dalam konstruksi di 14 negara.

PLTN sekarang mensuplai 14 persen kebutuhan listrik dunia pada tahun 2007 dan pasti akan terus bertambah mengingat semakin menipisnya cadangan bahan bakar fosil di bumi kita ini. Dan berikut adalah negara – negara yang dengan presentase terbesar penggunaan Nuklir sebagai pensuplai kebutuhan energinya :

Country Percent
France 76.8
Lithuania 64.4
Slovakia 54.3
Belgium 54.0
Ukraine 48.1
Sweden 46.1
Armenia 43.5
Slovenia 41.6
Switzerland 40.0
Hungary 36.8
S. Korea 35.3
Bulgaria 32.1

Seandainya PLTN tidak aman, lalu mengapa negara – negara tersebut mempertahankan PLTN sebagai pemasok kebutuhan listrik utamanya?

Kemudian Pak Jusuf Kalla juga mengindikasikan bahwa negara kita ini rawan gempa, padahal jepang adalah negara yang paling rawan gempa daripada indonesia sampai sekarang memiliki 55 PLTN yang beroperasi dengan aman.

Tahun lalu gempa Kashiwazaki-Kariwa menghentikan operasi PLTN di situ. Tapi hal ini – tanpa disadari banyak orang – justru merupakan sebuah keberhasilan desain PLTN dimana sistem keamanannya bekerja dengan baik, sehingga reaktor dapat dipadamkan secara otomatis tanpa mengakibatkan kebocoran radiasi melebihi batas ambang yang diijinkan. Setelah diperiksa selama dua pekan tidak terdapat kerusakan yang signifikan di bagian nuklirnya. Sistem keamanan PLTN ini telah berfungsi dengan baik sewaktu terjadi gempa bumi. Perlu diketahui bahwa sistim keamanan PLTN menerapkan sistim pertahan berlapis yang memastikan tidak ada radiasi yang dapat keluar. Pengalaman terhadap gempa Yogya 27 Mei 2006 juga menunjukkan betapa reaktor nuklir kita di Yogya sangat kokoh dan tidak mengalami permasalah keselamatan yang membahayakan.

Perlu diketahu sebuah moratorium PLTN yang beroperasi di Swedia yang telah diputuskan oleh parlemen Swedia, kini dicabut kembali oleh parlemen yang sama. Parlemen Italia tahun lalu juga memutuskan untuk menggunakan kembali tenaga nuklir untuk pembangkitan listrik. Jermanpun sedang meninjau kembali putusan phase-out (penghapusan) PLTN yang masih beroperasi. Di Amerika Serikat beberapa perusahaan listrik telah mengajukan permohonan lisensi untuk membangun dan mengoperasikan 26 PLTN baru.

Mungkin bisa kita tengok negara di Timur Tengah yang bernama Republik Islam Iran kini sedang gencar ingin mendirikan PLTN meskipun banyak negara barat – khususnya amerika – menolaknya karena alasan standar ( AS menuduh Iran akan mengembangkan senjata Nuklir). Sebenarnya Iran sadar betul bahwa cadangan minyaknya yang saat ini mampu memroduksi minyak berkisar 4-5 juta barel perhari untuk 100 tahun lebih ke depan suatu ketika akan habis. Jika sudah habis, maka tumpuan utamanya adalah pada energi nuklir. Karena itu penguasaan terhadap teknologi nuklir untuk pembangkin listrik adalah suatu keharusan. Karena itulah Iran mau berkorban apa pun demi pembangunan PLTN-nya.

Lalu bagaimana dengan Indonesia dengan produksi minyaknya hanya sekitar 1 juta barel perhari, untuk sekitar 20 tahun lagi, namun tetap masih menolak habis – habisan Energi Nuklir? Alasan yang dikemukakan adalah Orang Indonesia adalah ceroboh.

Bagaimana mungkin negara ini bisa maju kalau begini cara pandang mereka, jika bangsa lain mampu mengoperasikan PLTN dengan aman, kenapa kita tidak? Bukankah manusia pada dasarnya diciptakan sama? Inikah pola pikir skeptis yang dulu dipaksakan imperialis kepada kita selama 350 tahun yang menganggap bangsa lain lebih hebat daripada bangsa kita?

Bangsa kita telah mampu merdeka dengan keringat dan darahnya sendiri. Bagaimana mungkin tidak mampu mengoperasikan hanya sebuah reaktor nuklir? Jika bangsa lain mampu, kenapa kita tidak?

Sumber :

http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2009/02/16/brk,20090216-160374,id.html

http://www.nei.org/resourcesandstats/nuclear_statistics/worldstatistics/

Tagged , , , ,

1 thought on “Jika Bangsa Lain Mampu, Kenapa Kita Tidak?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.