Pukul 1 dini hari pada 26 April 1986, sebuah PLTN di Chernobyl, Ukraina yang dulu merupakan bagian dari U.S.S.R mengalami sebuah insiden Nuklir terburuk yang pernah ada dalam masa damai. Peningkatan tenaga reaktor secara tajam telah memicu terjadinya sebuah ledakan dahsyat oleh tenaga uap yang menghancurkan atap beton reaktor yang tipis berisikan nuklir seberat 1000 ton menjadi pecahan-pecahan besi.
Beberapa dari 211 buah tuas kontrol meleleh dan kemudian terjadi ledakan kedua, ( penyebabnya masih menjadi pertentangan di antara para ahli ) menghamburkan pecahan-pecahan inti minyak yang terbakar yang mengandung radioaktif dan mengakibatkan udara mendesak masuk memicu terjadinya berton-ton blok grafit akibat pemadatan.
Kebakaran grafit inilah yang mengeluarkan banyak radiasi ke atmosfir dan bulir-bulir penuh masalah di udara yang tercemar radiasi yang bisa terukur hingga ribuan mil jauhnya.

Sekitar 5,4 ton radioisotop yang lolos mendarat di Belarus. Namun sisanya terbang dibawa angin ke barat hingga menjangkau Kepulauan Inggris. Paparan radiasi tertinggi berada di gedung reaktor mencapai 5,6 Roentgen/detik, 202 kali lipat lebih besar daripada ambang batas dosis mematikan yakni sebesar 0,028 Roentgen/detik. Celakanya lagi, ledakan menyebabkan kerusakan dua dosimeter (pengukur radiasi) dengan limit 1.000 Roentgen/detik. Hanya tersisa dosimeter – dosimeter kecil dengan limit 0,001 Roentgen/detik, dan semuanya “off scale.” Karena itu kru reaktor yang dipimpin Alexander Akimov menganggap dosis radiasi saat itu hanya berkisar 0,001 Roentgen/detik, dengan mengabaikan tanda – tanda lain seperti potongan grafit, pipa bahan bakar dan batang kendali yang berceceran di sekitar gedung reaktor. Sehingga mereka memutuskan bertahan dan terus memompakan air ke gedung reaktor.
Bantuan kemudian datang dari brigade pemadam kebakaran Chernobyl, yang dipimpin Vladimir Pravnik, mereka tak diberitahu sama sekali bahwa yang dihadapi adalah sebuah reaktor RBMK-1000 yang telah bolong. Kerja keras mereka bersama kru reaktor berhasil memadamkan api di atas gedung reaktor dan gedung turbin pada jam 05:00. Namun dalam tiga minggu kemudian, sebagian besar kru reaktor dan pemadam ini telah meninggal.
Mobil-mobil pemadam kebakaran ini tidak pernah kembali ke garasi mereka dan para pemadam kebakaran yang mereka angkut tidak pernah kembali ke rumah-rumah mereka. Merekalah yang pertama tiba di tempat kejadian dan mengira itu hanyalah kebakaran biasa. Mereka tidak tahu apa yang sedang mereka hadapi saat itu.
Pada senja 26 April, Kremlin membentuk komite penyelidik dan memerintahkan Valeri Legasov dari otoritas ketenaganukliran Uni Sovet datang mengunjungi Chernobyl. Setelah sampai di Chernobyl, Valeri Legasov menjumpai 2 orang telah tewas dan 52 dirawat di rumah sakit, dengan gejala – gejala nyata akibat paparan radiasi berlebihan. Dosimeternya juga menunjukkan tingkat paparan radiasi yang sangat tinggi di sejumlah titik. Pada 27 April pukul 14:00 ia memerintahkan dimulainya evakuasi penduduk kota Pripyat dan sekitarnya. Agar tidak menimbulkan kepanikan, maka detil bencana tidak diberitahukan kepada penduduk, dan agar beban yang ditanggung tidak terlalu berat maka diberitahukan kepada penduduk bahwa evakuasi hanya bersifat temporal, yaitu hanya untuk 3 hari. Total penduduk yang dievakuasi tersebut berjumlah 336.000 orang.
Horor Chernobyl belum usai. Meski reaktor RBMK-1000 unit #4 telah menjadi puing, sisa bahan bakar Uranium yang masih cukup besar ( sekitar lebih dari 200 ton) dan puing – puing grafit masih sanggup menjalankan reaksi fissi. Meski daya yang dihasilkan kecil, tiadanya cairan pendingin membuat grafit terus memanas. Maka kebakaran pun berlanjut di interior puing. Malahan pada dasar puing, panas kebakaran cukup tinggi hingga sanggup membuat bahan bakar dan beton penyangga reaktor meleleh membentuk lava. Jika lava ini bisa menembus dasar bangunan dan tanah dibawahnya hingga mencapai cadangan air tanah dalam, maka kontak lava dengan air akan menciptakan erupsi freatoradiatik (“The China Syndrome”), ledakan uap berkekuatan besar yang sanggup membongkar tanah diatasnya membentuk kawah. Letusan ini akan memuntahkan debu yang terkontaminasi radioisotop hingga pada ketinggian 1 km. Jika ini terjadi, area yang tercemar dipastikan akan jauh lebih besar.

Untuk mencegah erupsi freatoradiatik maka otoritas memutuskan puing reaktor RBMK-1000 harus dimatikan dan didinginkan. Diperlukan waktu 9 hari dan 5000 ton pasir, boraks, dolomit (sejenis mineral yang berbentuk kristal), tanah liat dan timah hitam dijatuhkan dari helikopter-helikopter untuk memadamkannya. Tingkat radiasi di daerah tersebut begitu kuat hingga menyebakan banyak dari pilot-pilot pemberani tersebut mati.
Sebagai sebuah pemerintahan yang totaliter, Uni Soviet menyediakan banyak prajurit-prajurit muda untuk membantu pembersihan kecelakaan Chernobyl tersebut, tapi tidak menyediakan bagi kebanyakan mereka baju perlindungan yang memadai atau penjelasan apapun tentang bahaya-bahaya yang mengancam.
Lebih dari 650.000 orang pencuci membantu membersihkan bencana Chernobyl pada tahun tahun pertama. Grup ini termasuk mereka yang membangun bangunan tong dari reaktor No. 4 yang hancur yang disebut juga SARKOFAGUS (KUBURAN BATU BESAR) dengan tinggi sekitar 60 meter panjang 60 meter dan didukung dengan reruntuhan bangunan lama reaktor.
Awalnya, ototoritas mencoba mengunakan robot, tapi ilmu teknik tidak memungkinkan akibat tingginya radiasi dan juga halangan dari reruntuhan, kemudian akhirnya mereka mengerahkan ribuan tentara – robot manusia.

Bekerja di atas atap adalah pekerjaan yang tersingkat dari semuanya, dan hanya berlangsung sekitar dua menit. Banyak tentara ditawarin pilihan bagaimana harus memenuhi kewajiban dalam menjalankan tugasnya yang diperlukan bagi masa pensiun mereka dari angkatan darat. Satu hingga dua tahunan di neraka hujan peluru, roket dan bom di Afghanistan, dan yang lainnya dua menitan yang tenang, hening dan hujan sinar gamma yang tak terlihat di atas atap Unit # 3.
Police and military personnel guard the zone, but a few people mostly the elderly have returned to live in the zone, and in spite of the radioactivity have been there for five years. They say that they can’t see, taste, smell or touch the deadly radiation so it doesn’t bother them.
Masa depan dari PLTN Chernobyl penuh dengan ketidakpastian dengan otoritas Ukrainia yang sedang mencari bantuan finansial dari Negara – negara G-7 untuk menutup PLTN pada tahun 2000. Dan mereka harus memperbaiki atau mengganti serkofagus dengan yang baru karena yang aslinya telah dibangun dengan terburu-buru dan dipecah-pecahkan.
Sekarang, hanya sedikit sekali radiasi yang ada di dalam Sarkofagus yang bocor keluar. Banyak ilmuwan percaya bahwa lebih dari 90% masih ada di bawah kuburan batu. Sisa minyak radioaktif yang tersisa di dalam memiliki julukan Kaki Gajah, karena bentuknya yang tersendiri. Sekitar 190 ton uranium dan 1 ton Plutonium yang benar-benar berbahaya masih ada di sana, jadi jika si besar, gajah nuklir itu berhasil menapakkan kakinya keluar, maka kita semua akan dalam masalah yang sangat sangat besar sekali
Radiasi akan tetap bertahan di daerah Chernobyl selama puluhan ribu tahun, tapi manusia akan kembali berpopulasi di area tersebut dalam kurun waktu 600-an tahun atau bisa juga hanya perlu sekitar 3 abad. Para pakar memperkirakan, setelah itu, unsur-unsur yang paling berbahaya akan menghilang atau terlarut habis ke dalam udara dunia, tanah dan air. Jika menggunakan perkiraan para ilmuan, paling cepat hal itu baru akan terjadi sekitar 300 tahun lagi dari sekarang dan beberapa ilmuwan mengatakan mungkin bisa lebih lama lagi hingga mencapai 900 tahunan.

Tamat
Sumber :
Fakta dan Kronologi Kecelakaan PLTN Chernobyl




1 thought on “Belajar dari Chernobyl (Bagian 3)”