Keseharian, Perenungan

Tinggalkan Negerimu dan Hidup Asing

Akhir pekan ini adalah akhir pekan yang panjang, mulai dari sabtu hingga selasa, adalah hari libur,  praktis Jakarta akan menjadi sepi dikarenakan mulai ditinggal penduduknya untuk berwisata ataupun pulang ke kampung  halaman.

Bagaimana dengan saya dengan libur panjang ini? Tidak kemana – mana?

Ya, tidak kemana – mana. Tidak ada rencana wisata. Tapi bukan berarti tidak ada hal yang bisa diperbuat. Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Ada banyak karya yang mesti dihasilkan. Ada banyak ide tulisan di otak yang menunggu dilampiaskan. Semua pekerjaan harus menyenangkan bukan? Begitu juga semua kegiatan rekreatif haruslah produktif.

kalau seseorang bersikap kreatif untuk menemukan apa saja hal baik yang bisa dikerjakan dalam hidup ini, jam-jamnya tidak akan sempat ia gunakan untuk sedih atau meratap, sebab sudah habis untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik

Emha Ainun Nadjib

Sebentar lagi tahun 2017 telah usai, dan diganti tahun 2018. Sudah sepuluh tahunmerantau ke negeri orang, meninggalkan kampung halaman saya Kediri ( empat tahun di Jogja, enam tahun di Tangerang) . Saya teringat kalimat Imam Syafii tentang begitu pentingnya merantau

Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing

Dulu, saat masih menginjak sekolah menengah, saya masih belum bisa menemukan logika mengapa Imam syafii begitu menekankan pentingnya merantau. Bahkan di beberapa etnis seperti minangkabau menganggap belum dewasa seseorang jika belum merantau meninggalkan kampung halaman. Masyarakat Minang menganggap setiap  pemuda yang belum menikah dan enggan merantau dicap sebagai penakut dan tidak bisa hidup mandiri. Penakut karena tidak mau atau tidak berani mencoba kehidupan baru di luar daerah kampung halamannya Minang. Distempel tidak bisa hidup mandiri disebabkan karena ketergantungan terhadap saudara atau sanak keluarga.

Di Jawa sebenarnya juga ada budaya yang mirip dengan merantau, meskipun sekarang sudah sangat sedikit yang menjalankannya, namanya ngenger.

Ngenger itu bahasa ngetrennya mungkin sama dengan magang, namun berbeda konteks. Dalam ngenger seseorang dititipkan ke rumah saudara atau orang jauh, yang biasanya lebih sukses, tujuannya adalah untuk mendidik si anak hidup mandiri jauh dari orang tua.

Presiden RI ke 2, Soeharto pernah ngenger kepada Harjowiyono di Wonogiri. Disanalah Soeharto muda bekerja  bantu – bantu keperluan rumah, mulai dari bersih – bersih, menguras dan mengisi air dan kegiatan domestik rumah tangga mirip seorang pembantu. Makannya juga dari makanan sisa dari ‘majikan’. Namun dari Ngenger ini, Soeharto belajar banyak hal dari Harjowiyono terutama di bidang pertanian yang kemudian ternyata bermanfaat saat dia mendapat tampuk kempimpinan RI1.

Seiring dengan waktu, saya hidup jauh dari kampung halaman, perlahan saya menyadari dan menemukan alasan mengapa Imam Syafii begitu merekomendasikan pemuda untuk merantau. Dan mengapa ngenger di jawa, juga merantau di Minang begitu penting

Dari pengalaman saya, saat tinggal jauh dari kampung halaman, otomatis kita akan terputus dari segala fasilitas orang tua, apapun itu, mulai tempat tinggal, kendaraan, bahkan hingga bayang – bayang nama orang tua.

Terputusnya segala hal itu ibarat seorang bayi yang disapih dari susuan. Awalnya si bayi akan kaget dan menangis. Lalu kemudian  perlahan ia akan menjadi dewasa dan menjadi manusia dengan itu. Tidak lagi nyusu namun sudah belajar mengunyah makanan – makanan yang lebih keras. Menghadapi permasalahan – permasalahan yang biasa orang dewasa hadapi dengan tangan kita sendiri.

Tentu akan berbeda jadinya meskipun seseorang sudah bekerja dan tidak lagi meminta uang  saku kepada bapak ibunya, tapi masih tinggal serumah. Karena rumah, dan segala isinya secara hakikat juga masih merupakan fasilitas, begitu juga perlindungan dan perhatian keduanya juga bagian dari susu yang dikenyot oleh si anak, meskipun tak disadari.

Namun kala seseorang hidup jauh di kampung halaman, mau ngga mau ia dipaksa untuk tumbuh bukan sebagai anak orang tuanya, tapi sebagai dirinya sendiri, mengambil keputusan – keputusan sendiri, menanggung resikonya sendiri. Sehingga ia tumbuh dan dewasa  benar – benar atas namanya sendiri, bukan nama orang tuanya. Ia lalu dewasa menjadi Rajawali yang terbang menantang halilintar dan siap untuk melakukan hal – hal besar.

Alangkah sayang kalau kita memproduksi anak-anak seperti memelihara ayam ras. Kita pilihkan makanannya, kita kurung di tempat yang terlindung, dan mereka tak pernah siap menghadapi dunia nyata.

~ Emha Ainun Nadjib

Karena itu saya benar – benar mensyukuri, menjalani takdir hidup sepuluh tahun di perantauan, tanpa sanak famili, sehingga dengan itu saya  benar – benar digembleng untuk bisa berkembang menjadi diri saya sendiri. Tentu tanpa meninggalkan akar dan asal usul saya sebagai seorang anak yang wajib berbakti kepada orang tuanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.