Terkadang untuk menemani aktivitas saya membaca atau bekerja, saya sering ditemani lagu yang diputar melalui aplikasi spotify di gawai yang saya miliki. Memang mendengarkan musik akan membantu kita untuk lebih fokus dan seringkali bisa mengubah mood seseorang. Dari yang semula sedih, menjadi gembira, atau mungkin malah sebaliknya.
Kita juga biasanya memiliki kecederungan memilih – memilih lagu yang sesuai dengan suasana hati, jika seseorang sedang patah hati, biasanya tema patah hati yang sering diputar. Begitupun jika sedang jatuh cinta, maka lagu – lagu semacam inilah yang memenuhi playlist. Kita menyanyikan sepanjang hari lagu -lagu itu. Ya, jika Jika kita sedang jatuh cinta, kita ingin seluruh dunia mengetahuinya. Menyanyikan sebuah lagu adalah salah satu cara mencapainya
Namun kini saya memiliki kegemaran genre baru, lagu instrumen, tanpa lirik sama sekali. Wah, ada hal apa sampai saya seneng banget genre lagu ini? Bukankah mboseni, ngga bisa dinyanyikan. Ngga ada liriknya. Bagaimana bisa tahu artinya?
Ya, sebagai manusia saya hanya ingin melihat sisi yang lain dari sebuah dunia. Dunia selain dunia dimana manusia begitu mementingkan lirik lagu. Sampai – sampai jika ada sebuah lagu berbahasa yang tidak dimengerti artinya, maka ia akan malas mendengarkan. Tidak mengetahui liriknya berarti tidak tahu pesan apa yang ingin disampaikan .
Padahalkan pesan dari sebuah lagu tidak hanya bisa ditangkap pada liriknya, tapi juga dari nada – nada yang ia mainkan. Sedih atau bahagia bisa dirasakan dari alunan yang dimainkan. Coba dengakan Wishful Sora dari Izumi Tanaka. Salah satu favorit saya.
Dengan hanya mendengarkan nadanya, kita bisa menerima pesan apa yang kira – kira ingin disampaikan oleh si composer. Saya tidak bisa menggambarkan tafsir perasaan apa yang ada di dalam lagu ini. Rumit. Dan ya, itu mewakili suasana hati saya. Meskipun apa yang sedang saya tangkap dengan apa yang ingin composer sampaikan boleh jadi berlainan. Tapi setidaknya saya sebagai pendengar punya jarak pandang sendiri dalam menafsir apa maksud lagu ini. Menjadi tidak asyik jika misalnya, sebuah lirik ditambahkan dalam lagu ini, karena interpretasi saya hanya harus dibatasi oleh kata – kata yang memiliki kapasitas terbatas sebagai medium penyampai perasaan
Ini juga contoh lagu yang juga menjadi favorit saya, New Start dari Uniq. Mungkin dari judulnya, bisa digambarkan garis besar bahwa lagu ini bercerita tentang harapan, awal yang baru. Ya, setelah saya mendengarnya, saya membayangkan hal demikian. Tapi di kedalaman lagunya? Kita bisa bebas membayangkan sambil memejamkan mata mengenai harapan apa yang ditafsirkan dalam lagu ini.
Tapi tentu tidak ada yang tahu dari maksud sebenarnya mengenai lagu ini kecuali composernya. Mungkin demikian apa yang terjadi di dunia ini, boleh jadi ia juga adalah alunan nada instrumental, mulai dari angin yang berhembus, bunga-bunga yang sedang bermekaran, daun – daun yang ditiup angin lalu berguguran. Embun yang muncul di pagi hari. Rasa bosan yang dimiliki manusia, takut, kesepian, hingga patah hati boleh jadi hanyalah instrumen musik atapun nada – nada yang sedang ingin Tuhan mainkan dan sampaikan kepada kita.
Namun jika kepekaan nurani yang dimiliki oleh manusia hanya terlatih oleh kata yang harus bersifat wadag dalam bentuk lirik, oleh segala sesuatu yang bersifat tekstual maka bagaimana mungkin bisa memahami apa maksud Tuhan dari segala fenomena yang terjadi di hidup ini. Apa keinginanNya pada kita?
Ayat Tuhan tidak saja Kitab Suci yang diturunkan melalui perantara Rasul – rasulNya. Namun juga alam semesta ini adalah ayatNya juga bukan? Jika verse diterjemahkan sebagai ayat, maka Uni-verse adalah kesatuan dari ayat -ayatnya di alam semesta ini.
Mungkin anda merasa demikian, saya mengira Tuhan sedang ingin bermesraan dengan kita, melalui segala kejadian yang terjadi dalam hidup ini, yang ia mainkan dengan teramat indah. Dan kita manusia hanya bisa menerka – nerka, mentafsirkan, mentadabburi. Tentang kemesraan apa yang ingin Dia sampaikan.