Postingan ini ditulis di hari kedua saya mudik di kampung halaman. Ya, Kediri. ini adalah kali kesekian saya kembali pulang ke sebuah kota kecil, tempat dimana saya dulu dilahirkan. Mumpung hari jumat libur dan long weekend, maka saya telah menyiapkan jauh – jauh hari membeli tiket pergi – pulang Jakarta – kediri. Perjalanan dari Jakarta ke kediri menggunakan kereta api kelas eksekutif membutuhkan waktu kurang lebih 12 jam. Bagi sebagian orang yang pernah saya ceritakan, lama perjanan saya pulang kampung ini, 12 jam perjalanan darat disebutnya lama. Lama karena dengan 12 jam itu kita sudah bisa sampai di benua eropa menggunakan pesawat terbang. Lama dikarenakan dengan 12 jam itu mungkin bisa diseleseikan setidaknya 12 episode serial drama korea, atau mungkin dengan 12 jam itu cukup bagi kita untuk menyelamatkan dunia?
Tapi masalah lama, dan tidak itu menjadi pegangan yang tidak nisbi. Ia relatif. Tergantung subjek yang sedang melakukan perjalanan. Atau dengan siapa subjek itu melakukan perjalanan. Beberapa jam bagi satu orang bisa jadi teramat lama, dan mungkin bisa menjadi singkat bagi beberapa yang lain. Waktu bisa dirasakan memanjang ataupun menyusut. Jika dalam kondisi yang begitu sedih, waktu bisa terasa amat panjang. Namun jika perasaan kita sedang bahagia, waktu bisa teramat pendek.
Tapi ya bukan itu yang ingin sedang saya tulis, sebagian orang masih heran mengapa saya mengambil moda transportasi kereta, bukan pesawat misalnya. Meskipun kini, harga keduanya relatif bersaing. Ada beberapa alasan yang saya miliki, yang pertama, transportasi menggunakan kereta api lebih efektif, karena kereta bisa langsung njujug tiba di Stasiun Kediri. Sedangkan kalau harus menumpang pesawat terbang, harus turun Bandara Juanda, dan masih harus nyambung naik Bus di terminal bungur, nambah waktu perjalanan 4 jam. Alasan kedua, saya orang ndeso, dan agak selalu parno jika harus berurusan dengan pesawat terbang
tidak pernah merasa nyaman di dalam pesawat, karena pikiran saya selalu lalu lalang kemana – mana. Jika naik mobil kemudian mogok, kita ‘bisa turun, kemudian rame-rame ngedorong, atau dibawa ke bengkel. Tapi kalau naik pesawat?
Memang, hidup mati ada di tangan Allah, tapi saya ini orang dengan iman yang lemah. Ada beribu – ribu pikiran mengahantui ketika saya di dalam kabin. Selalu ada potensi kemungkinan untuk tidak selamat dan tidak kembali utuh di bumi. Karena itulah, senyaman apapun kabin, sengantuk apapun, sulit bagi saya untuk bisa tidur, terlebih di detik – detik ketika pilot mengumumkan untuk take off dan landing. Ya, lebih baik banyakin berdoa agar pesawat dan seluruh awaknya selamat sampai ke bumi heehe…
Ya semua itu kembali kepada pilihan sebenarnya, orang boleh menggunakan moda transportasi apa saja, selama dia dengan moda itu bisa sampai di tempat tujuan. Dalam islam ada terminologi ghoyah dan wasilah. Ghoyah itu tujuan, sedangkan wasilah berarti jalan. Maka sering kita mendengar nasehat dari orang – orang tua bahwa apa saja yang sedang kita alami sekarang ini, jadikan sebagai wasilah (jalan) untuk sampai kepada yang ingin manusia tuju. Apa lagi jika bukan Allah. Apa saja profesi yang ditekuni selalu temukan titik persambungannya dengan Allah. Maka semua profesi yang dijalani akan menjadi dzkir dan ibadah.
Setiap orang perlu kembali. Perlu pulang, pun saya. Kembali pulang itu mencari kembali jati diri sebagai manusia. Jika di Jakarta, manusia terlalu diriuhkan dengan warna – warna yang tidak sejati, oleh suara-suara yang sementara. Di kampung halaman, kita berusaha kembali menemukan warna sejati kita, suara dari kedalaman hati. Menemui Ibu, bukanlah sekedar menemui manusia mulia yang mempertaruhkan hidup matinya untuk melahirkan kita di dunia. Bukan sekedar menemui sosok bayangan Rabb, yang mengasuh dan mengajari kita. Namun ini tentang usaha kita untuk menyadari akan sangkan paran, tentang dari mana kita berasal, dan kepada siapa kita kembali.
Sehebat – hebatnya manusia, dia bukanlah apa – apa tanpa Ibu yang membesarkannya. Tanpa kasih perempuan mulia yang di tiap malamnya, selalu terbangun mendoakan keselamatan anak – anaknya di rantau. Maka kembali pulang mengunjungi ibu, menurut hemat saya, adalah pernyataan sikap dan kritik kepada dunia modern yang semakin menelantarkan sosok Ibu, dan mengalienisasikan perannya dalam kehidupan. Ia adalah penegasan posisi bahwa we are human being not human resource, Kita adalah manusia, bukanlah mesin produksi yang diharuskan bekerja untuk mencari apa – apa yang tidak pernah mampu dibawa hingga mati. Pulang ke kampung halaman tidak sekedar menyetuhkan kaki di tempat dimana kita dulu dilahirkan, tapi ia adalah sebuah kesaksian, bahwa kemanapun kita pergi, pasti akan kembali. Innalillahi wa inailahi Rajiun. Semua berasal akan kembali ke tempat dimana ia berasal.