Keseharian, Perenungan

Rutinitas Ilaihi Rajiun

Hari senin pagi, datang lagi, seperti setiap minggu biasanya. Setelah menikmati libur di akhir pekan, beristirahat dari rutinitas, maka sebagian besar kita yang pekerja kantoran, yang hari kerjanya di senin sampai jumat  tentu merasa berat untuk kembali lagi lalu harus memulai rutinitas di tiap minggu. Lalu bagiamana dengan pekerja yang terkadang masih harus mengambil kerja di akhir pekan.

Bulan ini, di November ini saya mengalaminya. Selama tiga kali akhir pekan saya harus bekerja overtime dengan alasan yang bervariasi. Dua diantaranya, harus standby menunggu proses DRP berlangsung (Disaster Recovery Planning) yang telah menjadi regulasi dari Bank Indonesia untuk dilakukan oleh tiap bank di tiap enam bulan sekali sebagai langkah antisipatif apabila terdapat bencana yang tidak pernah bisa diprediksi kapan datangnya.

Terakhir, di  akhir pekan kemarin, di hari sabtu sore hingga malam hari, juga minggu pagi-nya saya harus overtime mengikuti proses deployment aplikasi ke mesin production. Sebagai seorang programmer yang telah mengembangkan aplikasi tersebut, maka saya berkepentingan untuk hadir, minimal setor muka, dan siap menangani masalah yang timbul  sewaktu – waktu saat proses tersebut berlangsung

Maka jangan tanya lagi, jika peristiwa itu terjadi pada kita semua, setelah bangun tidur pada keesokan harinya, remuk badan biasanya akan dirasakan disekujur tubuh. Jadi saya sungguh menaruh hormat kepada mereka yang kadang hidupnya hampir seminggu penuh dihabiskan di tempat kerja.

Rutinitas terkadang memang mengerikan, bagi sebagian orang, hidup dalam keteraturan yang sudah bisa ditebak dari hari ke hari. dari minggu ke minggu, dari bulan ke bulan, bahkan dari tahun ke tahun. Namun bukankah nafas yang kita hirup juga merupakan rutinitas tiap detik kita. Juga jantung yang berdetak bekerja menghantarkan darah ke seluruh pembuluh di tubuh, juga merupakan rutinitas yang telah diprogram secara embedded oleh Tuhan di dalam metabolisme kita. Percaya atau tidak, rutinitas telah kita alami mulai dari saat kita dilahirkan meski tidak disadari.

Maka tentu masalahnya bukan pada rutinitas yang sedang dijlani, karena itu bisa jadi adalah sunatullah yang Tuhan ciptakan pada masing – masing manusia. Masalah yang sebenarnya ada pada apakah pemaknaan yang dilakukan dalam kegiatan rutin itu berbeda atau tidak di tiap harinya. Tiap hari adalah hari yang baru jika kita memperbarui kembali semangat dan cara pandang kita. Maka kemeja yang sedang saya kenakan ini menjadi baru, meskipun ini kemeja lama. Karena penghayatan dan cara pandang saya tentang kemeja ini juga baru, begitu juga saya harapkan pada hidup ini. Hidup ini tergantung pada cara pandang kita, bukan apa dan bagaimana barangnya.

Rutinitas, jika boleh digambarkan secara visual dalam diagram XY adalah frekuensi sebagaimana detak jantung dari intensitas tinggi berganti rendah, dari rendah beralih ke tinggi. Rutinitas sama dengan tempo dan harmoni di dalam musik yang kadang melambat, kadang meninggi. Dan jika dipetakan lebih dalam satu garis ordinat saja, rutinitas adalah proses rotasi siklikal, dari titik 0 berjalan menjauh memutar kembali ke titik semula. Sebagaimana perjalanan orang pulang dan pergi dari hari ke hari, sebagaimana peredaran darah yang kembali lagi ke jantung, sebagimana planet – planet yang mengitari matahari, sebagaimana elektron, sebagaimana diri kita sendiri yang memiliki garis edar innalillahi wa innailahi rajiun. Dari Tuhan dan akan kembali lagi pada Tuhan

Maka sejauh –  jauh kita pergi hari ini. Apapun yang kita kerjakan. Apapun tujuannya. Selalu siapkan bekal dalam hati, bahwa keterpisahan dalam perjalanan yang kita lakukan hari ini, kelak akan menemukan ujungnya untuk kembali kepada yang akhirnya kita rindukan.

Tagged ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.