Perenungan

Sepuluh Tahun Bersitensis

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Saya membuka tulisan saya dengan kutipan Pramoedya Ananta Toer, sastrawan Indonesia, asal Blora yang dilahirkan 92 tahun silam. Meskipun jasad mas pram (panggilan akrab Pramoedya Ananta Toer) telah mengalami transformasi menyatu  ke alam, namun karya dan pemikiran yang ditulisnya masih bisa dibaca hingga kini.

Pesan yang kurang lebih sama dengan nasehat Sahabat Rasulullah Ali bin Abi Thalib r.a., yang dijuluki  babun Ilmi, (Pintu gerbangnya ilmu pengetahuan)

Ilmu ibarat binatang buruan, maka Ikatlah  dengan menuliskannya.

Membaca, berilmu

Maka tradisi dan kemampuan menulis pada suatu masyarakat, menjadi indikator penting peradaban pengetahuan masyarakat itu. Menulis adalah konsekuensi lebih lanjut dari tingkat literasi seseorang, yaitu  membaca, yang merupakan ayat pertama perintah yang Allah turunkan kepada manusia,

Iqra, bismirabbika ladzi khalaq

Bacalah, dengan menyebut nama Rabb-mu yang menciptakan. Kewajiban membaca tidaklah berdiri sendiri, ia haruslah dengan disertai dengan menyebut nama Rabb  yang telah menciptakan, yang telah menuliskan ayat-ayatnya tidak hanya pada Al-Quran, namun juga seluruh alam semesta ini (universe,  jika verse diterjemahkan sebagai ayat, maka universe adalah kesatuan dari ayat-ayatNya). Allah menyebut diri-Nya sebagai Rabbun (Sang Maha Pengasuh), yang ngemong,  dan mendidik manusia dalam melakukan proses ber-iqra. Dikemudian hari muncul istilah tarbiyah yang berarti pendidikan, turunan kata dari rabbun.

khalaqal insanna min Alaq

Mengapa proses Iqra, haruslah disertai dengan bismirabbika? Karena Rabb yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bagaimana mungkin manusia mampu membaca banyak hal yang lain sementara gagal memahami diri dan hakikat keberadaan dirinya. Rabblah yang hakikatnya mengajarkan manusia dengan perantara kalam, mengajarkan manusia apa yang sebelumnya tidak diketahuinya.

Menulis, berdialektika

Usia manusia di alam ini teramat pendek, maka dengan membaca kemudian menuliskannya adalah bekerja untuk keabadian, sebagaimana disebutkan dalam awal tulisan ini tidaklah berlebihan,  karena apa yang telah dituliskan oleh seseorang bisa menjadi bahan pustaka orang yang hidup setelahnya. Dan berkat adanya pemikiran yang dituliskan itu, ia bisa menjadi bahan dialektika bagi pembacanya. Sebagaimana dialektika Hegel yang didasarkan pada absolute idee, dimana pergerakan tanpa henti dari tesis dan antitesis menghasilkan sebuah sintesis terus menerus

Memang selain Tuhan tidak ada yang sempurna, karena itulah manusia harus menulis, karena tulisannya akan diuji oleh waktu. Ia akan menjadi tesis ataupun antesis dari tulisan lain yang sedemikian hingga menghasilkan sebuah revisi sintesis yang lebih baik. Apa yang menurut kita benar sekarang ini, boleh jadi akan dibatalkan oleh yang lebih baik di keesokan harinya. Dan akan dibatalkan lusa oleh yang lebih sempurna, begitulah seterusnya. Ad infinitum.

Di tempat manapun dan di tempo apa pun gerakan tesis  dan antitesis akan menghasilkan sintesis. Perubahan akan terus terjadi selama manusia ada. Perbaikan bukanlah sesuatu yang kosong, namun sesuatu yang terus diperbarui dari waktu ke waktu.

Dari tahun 3200 SM silam dimana aksara bangsa kuno Mesopotamia ditemukan hingga kini. Salah satu  yang bisa kita urun lakukan untuk menjalani evolusi perubahan peradaban manusia  salah satunya adalah dengan menyumbangkan pikiran kita dalam wujud tulisan. Meskipun itu satu kalimat, satu paragraf, satu halaman. Karena apapun yang tampak besar – besar selalu dimulai dari yang kecil – kecil. Perjalanan mengelilingi dunia selalu dimulai dengan satu langkah kaki.

Tentu omongan saya sudah pasti akan terlalu muluk. Jika sepuluh tahun blog ini bisa memberikan sumbangan tesis dan antitesis bagi perubahan sintesis peradaban masyarakat yang kita tinggali sekarang. Tapi tentu pas jika yang dimaksud tesis dan antitesis itu ada pada skala diri pribadi saya sendiri, pergulatan pemikiran batin saya yang sedang belajar berproses menjadi lebih baik di keesokan harinya.

Semoga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.