Bingkai Kata, Keseharian

Aku Tak Sanggup Menulis

ilustrasi_101122120315Apa itu kata?  nama – nama, bahasa yang diucapkan manusia? Siapa yang pertama kali menemukannya? Apakah manusia harus berkata untuk bisa dipahami? Mengapa tidak mempelajari saja kedalaman hati? Ketika keheningan lebih menyentuh ufuk batin. Ketika kesunyian mengajarkanmu bahasa yang lebih sejati.

Seorang bijaksana mengajarkan bahwa kata sejati adalah apa yang terdetak di dalam hati. Bahasa yang terucap lisan sekadar perantara. Sedangkan perhatian yang tercipta adalah suasananya.

Bagiku kata adalah apa yang kutanggung kini sedangkan bahasa adalah apa yang kuperbuat kini. Seperti oksigen yang tak perlu memperkenalkan dirinya sendiri sebelum masuk hemoglobin darahmu. Seperti angin yang bertiup menyentuh daun – daun. Maka jangan memintaku untuk menulis, karena aku tak sanggup lagi. Bagaimana mungkin aku menulis. Sementara seluruh kata yang kuingat langsung gugup dan berlarian bersembunyi ketika aku mengingatmu.

Kau tahu Kimya? Bagaimana diriku begitu mencintai pemandangan langit yang bertabur bintang kini. Namun aku jauh begitu merindukan ribuan senja yang setiap kali kutemui ketika memandang indah matamu.

Maafkan aku, yang kini tak bisa mengutarakan apapun padamu, selain mempersembahkan setiap puisi yang kubaca ini untukmu. Cinta, patah hati, kebahagiaan, kesedihan – semua yang kutanggung dalam hidupku kini, adalah puisi yang hanya kubacakan untukmu.

I can’t help but attach every poem i read to you
Love, heartbreak, happiness, sadness- everything is a poem i read to you

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.