Keseharian

Mengalami Hidup

images (1)Masih di hari (me)libur(kan diri), sehingga agak kurang kerjaan  oleh karena itu tumben – tumbenan bisa posting seminggu hingga sampai beberapa kali. Di kampung halaman memang tempat yang nyaman untuk beristirahat sejenak dari kumuh udara kotor ibukota. Sekaligus tempat yang tepat untuk menata hati kembali sebelum memulai rutintas lagi. Meskipun kalo ngomongin kampung halaman saya pernah nyeletuk 

bahwa dimana bumi dipijak disitulah kampung halaman saya. Karena hati ini tidak bisa dibatasi oleh jarak  ataupun waktu

Wuih.. absurd banget ya..

Tapi memang benar, kalo di sini kadang saya jadi teringat banyak kejadian beberapa tahun yang lalu. Seperti saat awal – awal masa mendaftar kuliah,  di tahun 2007. Saya lupa persisnya tanggalnya, namun saat itu saya seorang diri  menumpang kereta Kahuripan dari Stasiun kediri ke Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Hingga  kemudian dibela- belain tidur di stasiun karena sampai jogja sudah larut malam.

Besok paginya, naik ojek dengan membayar 10 ribu dari lempuyangan ke jalan babarsari. Karena datang terlalu pagi, saya menunggu di depan gerbang kampus, sampai pukul 8. Menunggu suasana mulai ramai  dan kira- kira jam kantor dimulai, baru kemudian saya masuk.

Ada pula momen – momen lain saat masa sekolah, masa- masa setelah sekolah dan masa – masa pencarian dan perjuangan yang hingga kini saya syukuri karena semua telah membentuk karakter dan mental saya sampai saat ini.

Ya, setiap orang mempunyai pengalaman pribadinya sendiri – sendiri. Dan pengalaman itu menghantarkan padanya banyak pelajaran akan banyak hal, dan kelak itu akan mempengaruhi keputusan demi keputusan yang ia buat selanjutnya, dan bahkan, bukan tak maungkin akan mempengaruhi masa depannya.

Karena itu saya menyadari dan telah menemukan logika, mengapa banyak orang melakukan banyak keputusan yang berbeda ketika dihadapkan pada masalah yang sama. Itu bukan karena pengetahuan yang ia dapatkan berbeda- beda, tapi lebih karena pengalaman hidup yang berbeda.

Seseorang yang tidak pernah merasakan kelaparan misalnya, ia tidak akan pernah bisa memberikan aspresiasi untuk menghargai sebutir nasi. Alih – alih akan lebih sering menyisakan banyak makanan di piringnya – yang tidak punya kemungkinan lain selain dibuang ke tong sampah. Meskipun ia mungkin sudah tahu berapa angka kelaparan yang ada di dunia saat ini, dan bagaimana susahnya orang yang tidak seberuntung dia mencari makanan yang ia sia-siakan sekarang.

“Setiap pengalaman yang tidak dinilai baik oleh dirinya sendiri ataupun orang lain akan tinggal menjadi sesobek kertas dari buku hidup yang tidak punya makna. Padahal setiap pengalaman tak lain daripada fondasi kehidupan”

Pramoedya Ananta Toer

Informasi hanya akan membuahkan pengetahuan sedangkan pengalaman akan menghasilkan ilmu, dan  karena hidup adalah kumpulan pengalaman, maka, apa yang membedakan orang berilmu dan tidak bukanlah pada gelar – gelarnya, bukan pada ijazahnya, apalagi pada angka yang tertulis di kertas – kertas, melainkan pada sebanyak apa pengalaman yang ia dapat dari hidup

Never stop learning, because life never stops teaching.

Tagged

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.