“Masak sama teman sendiri perhitungan?”
Kalimat tersebut mungkin sering didengar bagi mereka yang sekarang merintis usaha. Entah yang kecil – kecilan ataupun yang serius. Kalimat tersebut sering dilontarkan oleh teman dekat, teman agak dekat, atau bahkan teman yang nggak dekat – dekat amat. Harga Teman, ya begitulah mereka menyebutnya, meminta keringanan dan perlakukan khusus dari segi harga demi sebuah pertemanan.
Fenomena ha
rga teman sepertinya sudah menjadi budaya dalam masyarakat kita, saya sendiri meskipun tidak mengalami langsung, namun pernah mengalami hal yang hampir serupa. Bagi pembeli yang merupakan teman si penjual, tentulah ini menguntungkan, makin banyak teman dia yang berjualan maka semakin banyak dia mendapatkan harga murah. Namun pernahkah kita berpikir dari sudut pandang si penjual? Jika yang meminta harga teman hanya satu dua orang mungkin tidak masalah, namun bagaimana kalau dia mempunyai banyak teman di luar sana dan semuanya meminta harga khusus? Akankah kita bisa berharap usaha produksinya untuk cepat maju.
Ini adalah salah satu kekejaman budaya kita, secara sadar ataupun tidak, diam – diam kita tidak rela teman kita yang sedang berproduksi memperoleh laba dari aktivitas komersialnya, sehingga kita menuntut harga murah kepadanya bahkan kalaupun bisa, kita ingin merugikan teman kita dengan meminta gratis. Ya, sepertinya kita kurang memiliki empati kepada teman kita yang sedang berusaha berwirausaha.
Ada juga beberapa orang yang memang tidak menuntut “harga teman”, namun bukan karena empati, tapi karena memang tidak berniat membeli dan merasa nyaman untuk bertransaksi dengan orang lain dibandingkan dengan temannya sendiri, meskipun ia juga tahu kualitas dan harganya relatif sama. Bahkan hampir – hampir mereka lebih memilih ditipu orang lain dari pada membiarkan temannya memperoleh laba
Kebiasaan inilah yang menurut saya merupakan mentalitas miskin bangsa ini, dimana seringkali mereka memandang rendah atau bahkan tidak menghargai temannya yang sedang berproduksi. Mereka merasa tidak ada yang salah dengan harga teman, kerena mereka mempunyai mentalitas buruh yang lebih nyaman mendapatkan gaji bulanan dan menjadi kacung orang lain.
Cobalah sesekali berjualan kecil – kecilan, untuk bisa meraba bagaimana perasaan mereka yang selalu kita tagih harga teman ini. Degan empati ini, maka kita akan berani membayar lebih mahal ketika membeli barang dan jasa dari seorang teman bukan malah meminta harga murah. Mengapa? Karena itu adalah bentuk aspresiasi kita terhadap usaha produksinya. Bayangkan jika lingkaran terdekat kita saling berproduksi dan saling berani membayar lebih mahal seperti itu. Maka akan terjadi perputaran ekonomi di lingkaran tersebut dan hasilnya akan semakin banyak orang – orang yang berwiurausaha dan jumlah ekonomi produksi di Indonesia akan meningkat. Sejalan dengan kemauan presiden RI yang ingin mengubah mesin ekonomi indonesia dari berbasis konsumsi menjadi produksi.