Sudah lebih dari satu bulan ini saya mendapat assignment untuk membantu mengerjakan sebuah project bersama anggota tim yang lain di salah satu bank nasional yang berlokasi di SCBD Jakarta. Tentu ini berarti mengubah sedikit banyak waktu kerja saya. Hampir tiap hari saya harus bolak balik Tangerang jakarta, bergelut dengan udara ibukota dan segala kemacetannya.
Saya sering menghitung – hitung sendiri tentang waktu tempuh yang harus dihabiskan pada perjalanan pulang – pergi. Ketika kondisi lalu lintas lancar, seperti sabtu pagi, perjalanan Tangerang-Jakarta hanya memerlukan waktu tempuh sekitar 30-45 menit, namun pada hari kerja setidaknya diperlukan 1,5 – 2 jam. Jadi sekitar 1 jam waktu hidup kita terbuang untuk sekali perjalanan, atau 2 jam untuk perjalanan pulang pergi sehari. Jika saya jumlah untuk 1 bulan dengan asumsi 20 hari kerja di satu bulan, maka waktu yang terbuang karena macet itu adalah 40 jam atau hampir setara dengan 2 hari 2 malam. Bayangkan berapa banyak hal produktif yang bisa dilakukan di 40 jam yang juga setara dengan 5 hari jam kerja.
Maka cletukan para komuter (atau sering disebut penglaju, orang yang setiap hari bolak-balik dari rumah ke tempat kerjanya yang berada di luar kota) tentang “tua di jalan” sebenarnya benar adanya. Transportasi di jabodetabek yang masih amburadul (apalagi di luar jawa?) memakan cost tidak hanya dari sisi biaya bahkan waktu. Maraknya ojek online yang akhir – akhir ini menjamur di setiap jam berangkat dan pulang kerja juga sebenarnya sebagai suatu indikasi hancurnya transportasi di indonesia.
Saya menaruh kekaguman dengan para komuter ini, mereka jarang mengeluh walaupun waktunya banyak yang “dirampok” di jalan akibat pemerintah yang tidak (atau sebut saja kurang) begitu perduli dengan transportasi publik yang efisien. Mereka juga tidak mengadukan nasibnya kepada para ulama, yang harusnya bisa memberikan fatwa haram kepada pemerintahan yang telah meyatimkan rakyatnya – sehingga mau tak mau juga berdampak pada hilangnya hak anak untuk bertemu kedua orang tuanya.
Membaca
Lalu apa yang bisa saya lakukan selain menunggu di dalam kemacetan seperti itu? Ya, untuk mengisi waktu di perjalanan saya sering membaca buku – buku yang sengaja bawa dari kosan. Maka jadilah jalanan macet di dalam bus, juga gerbong kereta komuter menjadi taman ruangan baca untuk saya. Sehingga, banyak bacaan yang kemudian akhirnya saya “khatam”-kan di aktivitas sela ini.
Jika lelah membaca aksara – aksara di kertas, maka saya alihkan perhatian dengan “membaca” banyak hal yang ada di sekitar saya. Selalu ada yang menarik yang bisa kita baca dari setiap hal yang ada. Membaca perilaku orang – orang yang beranekaragam. Kadang menaruh simpati, kadang lucu, dan kadang ngeselin juga.
khalaqal insanna min Alaq
Namun sebelumnya, yang pertama mesti dibaca adalah peristiwa penciptaan manusia. Bagaimana bisa manusia mempelajari ciptaanNya yang lain, jika belum tuntas mempelajari penciptaanya sendiri? Sebuah tema yang akan menghabiskan banyak seminar, simposium hingga berjilid – jilid buku untuk membahasnya mulai dari proses biologis, hinga filosofis dan kaitannya dengan kekhalifahan manusia di muka bumi.
Maka sungguh Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, yang mendorong umatnya untuk terus belajar agar bisa menjawab banyak masalah jaman.
Lalu apa kesimpulannya tulisan saya ini? Apa hubungan kemacetan dengan perintah membaca? Lah, Transportasi yang semrawut dan kemacetan yang terjadi bukankah karena keengganan pemerintah “membaca” keinginan rakyatnya? Maka keahlian membaca sangatlah penting dalam pemerintahan.
Bagaimana para politisi di senayan, juga kabinet di istana bisa membuat kebijakan yang mengatur rakyat, jika sebelumnya tidak membaca dengan baik apa yang diinginkan dan dikeluhkan oleh mereka?
Karena itu, bacalah!