Dari hari jumat malam kemarin, hingga malam ini bukanlah malam yang biasa. *halah
. Nggak biasa, karena saya sedang kedatangan kawan – kawan lama. Kawan lama itu biasa disebut oleh dokter dan ahli kesehatan sebagai sakit. Namanya adalah Influenza, panas dingin. dan masuk angin, bahkan barusan datang satu lagi yang bernama batuk. Ya, mereka semua menemaniku dan menginap dari jumat malam kemarin. Meskipun pelan – pelan sekarang mereka sudah berpamitan pulang.
Alhamdulillah,
Lho kok sakit malah Alhamdulillah.
Lha benar kan?. Mengucap Alhamdulillah itu ndak harus kalo dapat duit 1 milyar. Kalo memang cuman begItu, itu malah mendegradasikan kalimat Alhamdulillah pada hal – hal yang hanya menurut pandangan “subjektif egois” kita baik. Padahal kan di dunia ini tidak ada yang tidak bersifat “alhamdulillah“, tidak ada yang tidak bersifat “Subhanallah“, tidak ada yang tidak bersifat “Allahu Akbar”, tidak ada yang tidak bersifat “astaghfirullah“, dan seterusnya. Semuanya bergantung pada bagaimana kecerdasan berpikir kita terhadap segala kejadian yang ada.
Alhamdulillah masih disayang Allah. sehingga masih memberi perkenan datangnya kawan – kawan lama untuk bertamu mengingatkan akan bagaimana nikmatnya sehat, sehingga melatih saya untuk lebih pandai bersyukur kala sehat, memperbanyak istighfar memohon ampun, karena sering lupa akan nikmat sehat yang masih saya nikmati bahkan kala sakit seperti ini. Alhasil, meskipun sakit, hati saya terjaga untuk tetap bisa bergembira akan karunia rizki yang tak habis-habisnya diberikan bahkan tanpa saya minta sekalipun.
Tentu kita tidak pernah ingin menjadi seperti Firaun, Firaun, selama hidupnya tidak pernah merasa sakit, kesusahan, atapun duka cita. Hingga – hingga kemudian merasa dirinya sebagai Tuhan. Maka, sakit, dan duka cita posisinya bisa menjadi lebih penting ketimbang kekayaan, dan istana termegah, karena ia mendorong diri kita diam – diam menangis dan menyeru kepada Tuhan.
Jadi untuk apa bersedih hati? Banyak yang mendapatkan “ujian” sakit lebih hebat daripada ini, masih sanggup untuk bersyukur. Maka nikmat Allah manakah yang kita dustakan? Maka kerelaan kita terhadap sakit dan “kesusahan”: yang kita alami semoga dapat menjadi bentuk ibadah, sehingga Allah memberi perkenan kesembuhannya pada kita. Amiin.
Manusia tak sanggup memiliki apapun di dunia selain kehilangan. Maka, kerelaan adalah bekal terbaik manusia menempuh hidup di dunia
