Perenungan

Puasa, Tiket Cinta Illahi

images (2)Tulisan ini saya buat karena nyicil, sebagai bahan perenungan kita bersama, karena sebentar lagi bulan Ramadhan. Meskipun sebenarnya puasa tidak hanya sebatas ramadhan. Puasa bukan hanya sebatas ibadah ritual formal yang berupa tidak makan dan minum dari shubuh hingga maghrib.

Tulisan saya ini sifatnya perenungan, dan subjektif. Sedangkan tentang kebenarannya hanyalah milik Allah.

Saya mulai tulisan saya ini dengan firman Allah dalam sebuah Hadist Qudsi

“Puasa itu untukKu, Aku sendiri yang membalasnya”

Hadist Qudsi tersebut mengungkapkan possesiveness Allah terhadap ibadah puasa. Sebenarnya itu bukan berarti Allah membutuhkan ibadah puasa kita. Allah terlalu besar untuk bisa bergantung kepada ibadah manusia. Allah mengungkapkan demikian sebenarnya lebih sebagai ungkapan romantisme dan Cinta Allah kepada manusia. Allah sebenarnya hendak mengajarkan tentang Cinta, tentang jalan bagaimana kita agar bisa ‘mendekati’-Nya.

Puasa memang berat, dan hampir – hampir sulit dilakukan dengan total lahir dan batin – jika itu tidak dilandasi dengan perasaan Cinta.

Ya,  Cinta bisa membuat pelakunya melakukan hal-hal yang sebenarnya dia benci, atau juga sebaliknya, tidak melakukan hal – hal yang sebenarnya dia sukai. Cinta akan membuat seseorang berhasrat untuk memberikan sesuatu kepada yang dicintainya itu, betapapun pemberian tersebut akan membuatnya menanggung hal – hal yang sebenarnya tidak dia sukai.

Melawan Kesenangan

Ambil saja contoh dari kehidupan sehari – hari, awalnya seorang pemuda benci suatu jenis makanan, namun karena gadis yang dicintainya menyuguhinya menu makanan tersebut. Sedangkan si pemuda tersebut – karena Cintanya-  tidak sampai hati menolaknya. Akhirnya, demi cintanya kepada si gadis, dimakan jugalah makanan yang sebenarnya tidak disukai tersebut.

Begitulah analoginya, pada dasarnya, secara manusiawi kita menyenangi makan dan minum. Pada dasarnya, kita tidak suka dan tidak betah untuk lapar dan haus. Namun kemudian Allah datang menyuguhi kita puasa. Dimana kita dituntut untuk menahan lapar dan haus.

Jadi puasa bukan lagi menjadi beban. Meskipun puasa memang berat, tapi dengan itulah manusia ditinggikan derajadnya. Dan dengan jalan itu seorang manusia mendekat pada Tuhan. Puasa adalah kesanggupan untuk menampik segala kesenangan sebagai bukti Cinta si pelaku pada Tuhannya

Maka ketika kita menjalani ibadah puasa dan kemudian terasa lapar dan dahaga, seketika itu pulalah ikhlaskan lapar dan dahagamu tersebut dan niatkan sebagai bukti perasaan Cintamu pada Allah. Jika demikian, Insya Allah kita temui bagaimana nikmatnya lapar dan dahaga kala puasa.

Puasa, Tiket Masuk HadiratNya

Allah melatih kita untuk puasa karena puasa itu adalah tiket untuk kita masuk ke pintu hadiratNya. Pada dasarnya kita juga tidak senang membagi – bagikan hasil jerih payah kerja kita. Pada dasarnya kita lebih suka mementingkan nasib diri kita sendiri dibandingkan dengan menolong orang lain yang menderita dan membela orang yang tertindas. Kewajiban – kewajiban sosial seperti itu hanya bisa kita lakukan jika kita  berhasil ‘berpuasa’ dan berhenti menuruti kesenangan – kesenangan. Sehingga dengan itu kita naik tingkat dihadapan Tuhan, karena

Sebaik – baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia yang lainnya

Puasa adalah metode yang diajarkan Tuhan agar manusia bisa menaklukan kesenangannya. sehingga dirinya  mampu lebih besar dan mengatasi kesenangannya itu. Mampu untuk betah lapar dan haus. mampu mengorbankan kesenangannya demi sesuatu yang lebih sejati dan tinggi nilainya. Sedemikian hingga puasa akan membuat pelakunya tidak menemui lagi di setiap detik, setiap hela nafas, detak jantung melainkan semua adalah puasa itu sendiri. Memberikan dirinya utuh kepada Allah Yang Maha Rahman.

Tagged ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.