Tulisan saya ini menyambung tulisan saya sebelumnya tentang sholat, karena meskipun peringatan isra’ miraj telah lewat, toh ga ada salahnya jika kita berusaha mengilmui dan memaknai rahasia dari setiap perintah Tuhan kepada kita.
Saya berpikir, sepenting apakah ibadah sholat jika dibandingkan dengan ibadah yang lain, sehingga Tuhan merasa berkepentingan menyampaikan langsung perintah ini lewat peristiwa isra’ miraj?
“Mahasuci Allah yg memperjalankan hamba-Nya… ” (QS. Al-Isra’:1)
Dalam peristiwa isra’ miraj yang merupakan awal turunnya perintah sholat, Allah menyebut Muhammad s.a.w sebagai ‘abd‘ (hamba) bukan dengan panggilan lain. Hal ini mungkin dikarenakan peristiwa ‘Isra miraj‘ hanya bisa terjadi ketika seseorang telah melalui suatu penghambaan secara total dan keluar dari sifat-sifat kemanusiaan. Sehingga Allah memanggil dan mengakuinya dengan sebutan abd, bukan yang lain.
Meskipun ayat tersebut turun menjelaskan kondisi rasulullah, sebenarnya ayat itupun juga bisa berlaku bagi umatnya. Karena, kondisi “diperjalankan” tentu tidak sebatas yang dialami rasulullah saja, umatnya juga bisa “diperjalankan” sesuai potensi dan kondisi ruhani mereka. Dan sholat, mengkondisikan manusia, untuk mencapai potensi dan kondisi demikian, sebagaimana hadist Nabi
Dalam sholat, Allah mengangkat segala tabir dan membuka gerbang tak kasatmata, sehingga hamba-Nya berdiri langsung di hadapanNya. Orang yang menjalankan sholat menciptakan hubungan rahasia antara dirinya dan Tuhan yang disembahnya. Sholat adalah pintu menuju realitas Allah.
Sujud
Kita mengenal seseorang dari wajahnya, bukan dari bentuk fisik yang lain, namun tatkala sujud, wajah yang selama ini diagung-agungkan menjadi supremasi identitas manusia, digerakkan bersungkur mencium tanah di hadapan Tuhan, sehingga kita tidak akan lagi melihat wajah dia, identitas dia siapa.
Apapun yang dia lakukan dalam hidupnya, entah itu perbuatan baik atau apapun tidak ditujukan agar dirinya ‘dilihat’ dan populer dihadapan manusia, namun untuk membesarkan nama Allah. Jika dia mempunyai jasa, biarlah saja jasa itu dinikmati lingkungannya, namun, masyarakat yang menikmatinya – kalau bisa tidak perlu mengetahui siapa hakikat dirinya yang berjasa itu.
Dan ketika dia bangun dari tempat sujudnya, maka diucaplah takbir sekali lagi, “Allahu Akbar“, ketika wajahnya ditampakkan, itu bukanlah atas inisiatif atau keinginannya sendiri, bukan atas keinginan untuk populer atau disanjung banyak orang, namun dikarenakan Allah yang Maha Besar yang memerintahkan demikian. Karena wajah yang nampak kala itu, bukanlah wajah dirinya pribadi, atau egonya sendiri, namun wajah seorang abd, wajah seorang hamba Allah.
Begitulah harusnya ibadah, dimana ibadah menjadikan manusia sebagai ‘abd‘, larut dalam kemahabesaran Allah, sehingga bukan lagi, diri pribadi yang tampil, namun biarlah Allah yang tampil sebagai satu – satunya eksistensi yang ada.
Jika sudah begitu, maka bagaimana mungkin manusia bisa penuh percaya diri mengeksiskan dirinya sendiri, mengkultuskan dirinya sendiri dan kemudian atas inisiatifnya memajang fotonya di pohon – pohon, tiang listrik hingga baliho dengan ukuran – ukuran besar. Padahal Rasulullah, seorang manusia mutiara, tidak ingin dirinya dikultuskan, sehingga melarang umatnya untuk menggambar wajah beliau.
Mencapai Posisi Hamba
Setiap gerakan sholat, hampir seluruhnya diawali dengan takbir, mengakui eksistensi sejati Allah, bahwa hanya Allah-lah yang sejatinya Akbar. Diriku, dirimu, dunia dan segalanya yang lain – lainnya adalah kecil. Begitupun keseluruhan bacaan dan gerakan sholat itu sendiri adalah kondisi – kondisi yang hanya bisa dialami seorang ‘abd‘. Bahkan, hanya yang benar – benar hambalah yang mempunyai kesanggupan untuk meninggalkan aktivitas dunianya begitu adzan dikumandangkan — betapapun sibuknya dia, bagaimanapun asyiknya dia.
Ketika manusia sudah benar – benar bersungguh-sungguh dalam sholatnya, maka dia akan dihantarkan dalam sebuah kondisi baru, kondisi abd, kondisi seorang hamba dimana dia telah mencapai suatu kesadaran hingga seluruh gerak hidup, detak jatung, aliran darah dan gerak hatinya sudah tidak ada yang lain selain sholat itu sendiri.
Jika sudah begitu maka tercapailah tujuan sholat seperti yang Rasulullah sabdakan yakni mencegah perbuatan keji dan munkar