Perenungan

Berdoa Sebagai Wujud Kehambaan

DoaBanyak dari kita manusia, dengan penuh kepercayaan diri, meminta – minta kepada Tuhan, (bahkan tak jarang hingga mendikte – dikte Tuhan) akan sesuatu hal yang sebenarnya tidak kita ketahui benar baik – buruknya, selain melalui penilaian akal pikiran kita yang sempit ini.  Padahal Tuhan telah memberikan petunjuk bahwa apa yang kita sukai, bisa jadi mengandung mudharat, dan apa yang  kita benci boleh jadi itu mengandung kebaikan untuk  kita.

Seringkali kita berdoa dan meminta kepada Tuhan, seolah – olah  Dia telah ‘mengabaikan’ diri kita, sehingga kita merasa perlu untuk mengingatkanNya terus menerus agar segera memperbaiki dan mengentaskan nasib dan derita .

Pemahaman kita begitu sempitnya  tentang Tuhan, sehingga sering malah kitalah yang memposisikan diri sebagai “tuhan”, dengan banyak ‘mendikte’ Tuhan agar menuruti hasrat, rencana dan keinginan kita. Jika sudah begitu, maka doa malah akan membuat kita stress dan gelisah, karena bukan kalbu kita yang menghadap Tuhan namun nafsu dan keinginan kita.

Astaghfirullah, kita harus banyak-banyak beristighfar, begitu piciknya iman kita kepadaNya yang sering memaksakan pilihan – pilihan kita, dan bukannya menerima apa – apa yang telah ditetapkan olehNya. Kita selalu terus menerus menganggap bahwa Allah-lah yang harus menuruti  selera dan kehendak kita, padahal sebenarnya keinginan kita tidak lebih adalah pantulan iradah dariNya. Dan hanya Ia yang mampu mewujudkannya.

Suatu ketika Rasulullah berdakwah di kampung Thaif, dan kemudian diserang oleh penduduk kampung itu,  hingga membuat jidatnya berdarah. Rasulullah berlari menyelamatkan diri di sebuah kebun kurma, dan kemudian berdoa.

Ya Allah,  kepadaMu aku mengeluhkan kelemahanku, ketidakberdayaanku, dan kehinaanku di hadapan manusia, Wahai Yang Maha Pengasih diantara orang – orang yang mengasihi. Engkau Tuhan orang – orang yang lemah dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapakah Engkau hendak menyerahkan diriku? Kepada orang – orang asing yang bermuka masam terhadapku atau kepada musuh yang Engkau takdirkan akan mengalahkanku? Hal ini tidak aku risaukan, asalkan Engkau tidak murka kepadaku. Namun rahmatMu bagiku amat luas. Aku menyerahkan diriku pada cahayaMu yang menerangi segala kegelapan dan menentukan kebaikan urusan dunia akhirat. Aku berlindung dari murka-Mu. aku senantiasa mohon ridhoMu, karena tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas perkenanMu

Muhammad s.a.w, menyerahkan urusan kebaikan dunia-akhiratnya kepada Tuhan, Baginya tidak ada kepentingan terhadap dirinya, karena tidak ada tempat tujuan selain Allah.

Sebenarnya itulah yang merupakan tujuan dari  berdoa, yakni sebagai wujud kehambaan dan kemesraan seorang hamba kepada Tuhannya. Dengan berdoa, akan timbul seluruh kehinaan diri, kebutuhan diri, dan ketidakberdayaan diri seorang manusia dihadapan Tuhan.

Karena itulah Syech Ibnu Athaillah dalam kitab Al-Hikamnya mengatakan,

Janganlah Doamu kau tujukan untuk dikabulkannya hajatmu, Karena jika begitu, pemahamanmu kepadaNya menjadi sempit. Hendaknya Doamu itu semata kau tujukan untuk menampakkan wujud kehambaan dan menegakkan Hak-hak KetuhananNya.

 

Tagged , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.