Kecelakaan Lion Air yang terjadi kemarin, mengagetkan kita semua, begitupun saya dan juga mereka yang sering naik pesawat untuk berpergian. Namun bukan kecelakaan tersebut yang ingin saya ceritakan, tapi perasaan dan pengalaman saya ketika berpergian naik pesawat terbang.
Sudah hampir dua tahun ini saya sering berpergian dengan pesawat terbang, entah itu untuk pulang kampung ataukah untuk kepentingan pekerjaan. Namun dari sekian kali naik pesawat terbang, masih saja ada perasaan was- was dalam hati. Seandainya bisa memilih, jika ada transportasi yang memiliki waktu tempuh paling lama 6 jam untuk jakarta – kediri. mungkin saya memilih moda transportasi itu ketimbang pesawat.
Sebenarnya saya memang tergolong orang yang takut naik pesawat, tapi ya setakut-takutnya, ya tetep diberani-beranikan, di tenang-tenangkan sendiri. Tapi meskipun begitu, tetap saja ada perasaan khawatir atau cemas dalam hati. Lah bagaimana tidak? Jika naik mobil kemudian mogok, kita ‘bisa turun, kemudian rame-rame ngedorong, atau dibawa ke bengkel. Tapi kalau naik pesawat? Maklum, meskipun katanya sarjana, saya orang ndeso bin katrok. Jadi selalu punya pikiran yang aneh – aneh ketika di dalam kabin.
Memang, hidup mati ada di tangan Allah, tapi saya ini orang dengan iman yang lemah. Ada beribu – ribu pikiran mengahantui ketika saya di dalam kabin. Selalu ada potensi kemungkinan untuk tidak selamat dan tidak kembali utuh di bumi. Karena itulah, senyaman apapun kabin, sengantuk apapun, sulit bagi saya untuk bisa tidur, terlebih di detik – detik ketika pilot mengumumkan untuk take off dan landing. Ya, lebih baik banyakin berdoa agar pesawat dan seluruh awaknya selamat sampai ke bumi.
Tapi, yang aneh, saya perhatikan, mengapa semua penumpang yang lain begitu tenang ya? Entah saat take off ataupun akan landing. Hm.. Apakah mereka tidak punya imajinasi seperti saya bahwa selalu ada ribuan kemungkinan kita untuk celaka di dalam pesawat, atau mungkin mereka sudah memahami tentang sudah betapa canggihnya teknologi keselamatan dan regulasi penerbangan kita? atau bisa jadi, mereka semua adalah manusia – manusia insan kamil, yang karena sudah begitu dekatnya kepada Allah, maka ia sudah pasrahkan hidup – mati serta segala sesuatu kepada Allah.
Apapun itu, saya mencoba berbaik sangka, bahwa pasti para penumpang sudah tahu sepenuhnya bahwa begitu rapuhnya batas antara hidup dan mati kita di udara.