Keseharian, Perenungan

Puasa Mengajarimu Ketulusan

ketulusan

"Puasa itu untukKu, Aku sendiri yang membalasnya"

Begitulah Allah berfirman dalam sebuah Hadist Qudsi. Mendengar ini, saya pun bertanya. Apa istimewanya puasa, dibandingkan dengan ibadah-ibadah yang lain? Bukankah semua ibadah adalah untuk Allah, dan tentu Allah juga yang membalasanya. Lalu apa maksudnya?

Dibandingkan dengan amal ibadah lain, Puasa berbeda, karena ibadah yang lain memiliki gerak lahir yang orang lain bisa mengetahuinya, mulai dari sholat, zakat, apalagi haji, semuanya bisa dilihat dan diketahui orang lain. Namun puasa tidak, Tidak ada satupun orang yang tahu, apakah kita saat ini benar – benar berpuasa atau tidak, bisa jadi saat wudhu kita telan air wudhu, tidak akan ada yang tahu. Lalu kenapa tidak kita lakukan?

Puasa mengajari kita ketulusan, meskipun tidak seorangpun yang tahu dan memperhatikan, namun kita enggan membatalkan puasa, karena adanya sebuah ketulusan yang meniatkan puasa kita kepada Allah semata.

Hanya ketulusanlah yang mampu membawa orang untuk meninggalkan kebiasaan untuk tidak melakukan hal yang telah menjadi kebiasaan, dan menahan semua anggota badan dari seluruh kesenangannya.

Dengan puasa, kita dilatih untuk bersabar, dilatih untuk menahan diri, dilatih untuk berlaku tulus. Dan tak adalah ketulusan tanpa Cinta.

Karena ketulusan hanya ada ketika Cinta telah bersemayam di dalam dada. Mereka yang merasakan Cintalah yang bisa menikmati saat-saat lapar dan dahaga kala puasa

Puasa mengajari bahwa untuk berbuat, adalah tidaklah penting makhluk melihat atau tidak, namun apakah Allah ridha atau tidak dengan yang kita lakukan.

Bahkan,

Bagian terbaik dari hidup seseorang adalah : perbuatan-perbuatan baiknya dan kasihnya yang tidak diketahui orang lain

Ya, sisi terbaik dari seorang manusia adalah ketulusan hatinya, perbuatan baiknya kepada sesamanya yang tidak pernah dilihat orang lain. Jika dia mempunyai jasa, biarkan saja jasa itu dinikmati lingkungannya, namun, masyarakat tidak perlu mengetahui siapa hakikat dirinya yang berjasa itu.

Sungguh, ketulusan akan membuat hati kita menjadi tenang. Karena hanya Allah yang menjadi satu – satunya tujuan hidup.

“Illahi anta maksudi waridhaka matlubi”
Tuhan, Diri-Mu lah yang kami tuju, ridhoMu lah yang kami minta

Jika di dunia ini, hati masih sering menemui kekecewaan, maka simpulkan saja, yang demikian itu pertanda masih “kekanak-kanakannya” dan belum tulusnya penghambaan kita padaNya.

Kecewa hanyalah milik mereka yang hidupnya tidak tulus. Mereka yang tulus, hatinya tidak pernah merasakan kecewa. Dan puasa, mengajarimu tentang apa itu ketulsan

Selamat Berpuasa kawan, dan mari kita sama-sama belajar tentang Ketulusan.

Tagged , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.