Tak terasa, kurang dari satu minggu lagi Ramadhan – bulan yang ditunggu – tunggu semua umat islam akan datang. Hampir sudah satu tahun saya bekerja di Tangerang. Banyak sudah yang terjadi satu tahun ini. Ada senang, ada juga susah. Semua layaknya disyukuri, karena semua adalah rahmat Allah.
Sehat memang rahmat, namun jangan dikatakan sakit bukanlah rahmat. Bagaimana buka rahmat? Jika melalui sakit semua dosamu digugurkan olehNya. Apapun yang terjadi dalam hidup kita entah baik, entah terlihat buruk, semua masih dalam tahap potensi. Bisa menjadi benar- benar baik ataukah benar – benar buruk tergantung kita menyikapinya, karena kitalah khalifah, semua menjadi baik, jika kita menginginkan demikian, begitupun sebaliknya. 🙂
Bulan puasa, adalah layaknya suatu camp pelatihan dimana kita kembali “digodog” fisik dan mental kita sehingga bisa kita temui lailatul Qadar diri kita. Menghadapi kembali bulan syawal, bulan peningkatan, memaikan diri kita kembali kepada Allah.
Bahwa peradaban tertinggi manusia bukanlah kemerdekaan ataupun kebebasan. Peradaban tertinggi manusia ketika dia telah mampu menahan diri – atau dengan kata lain – berpuasa. Karena Tuhan-pun berpuasa, Tuhan memiliki Asma “As Shobur”, Yang Maha Sabar. Allah begitu sabar meskipun kebanyakan kita melakukan kerusakan, dosa dan membangga-banggakan kebusukan – kebusukan. Allah berpuasa, menunggu waktu, mengatur tempo sedemikian rupa, untuk tidak langsung menurunkan adzab kepada umat manusia yang kejahiliahannya bahkan berlipat – lipat dari Kejahiliahan jaman pra – Muhammad.
Puasa adalah fitrah semua makhluk hidup, mulai dari ayam yang berpuasa ketika mengerami telurnya, ular saat berganti kulit, bahkan ulat bulu ketika menjadi kepompong. Puasa melatih ketulusan kita, tanda Cinta kita sebagai manusia yang mencintai Tuhannya, puasa itu untuk Allah, dan Allah sendiri yang akan memberikan balasannya.
Akhirnya, ku ucapkan pada saudara-saudaraku. Marhaban Ya Ramadhan. Selamat berpuasa.