Perlahan, kujejakkan kaki – kaki yang lelah menapaki jalan – jalan kecil diantara belantara metropolitan. Ditemani Senja yang berarak pulang di ufuk barat. Asap knalpot beterbangan menghias –menyapa setiap sela – sela kendaraan. Diantara gedung – gedung tinggi yang angkuh menantang langit. Kebisingan sana – sini, kesibukan, keriuhan manusia yang membuat hati sunyi, perlahan mereda seiring pekat malam yang mulai menebarkan jubah hitamnya.
Perlahan tapi pasti, kusadari atau tidak, hari kian hari ku terseret dalam pusaran gelombang materi yang membuatku lupa akanMu. berusaha tegar, tetap tak goyang akan kerasnya badai yang menghantam. Tapi siapakah aku Tuhan? Tiada kekuatan yang kupunya selain semua adalah pertolonganMu.
Aku bukanlah karang yang tegar menghadapi kuatnya gelombang pasifik, aku juga bukan tiang – tiang penyangga langit malam, aku juga bukan bukit – bukit tinggi menjulang angkasa. Aku hanyalah debu di gurun pasir kehidupan, terlempar kesana kemari, tak berdaya tanpa cintaMu Tuhan.
Sesaat, ku ingin berontak akan hidup, ingin lari dari segala masalah yang mendera. melepaskan segala beban dalam diri yang tiap hari semakin saja menyesakkan nafas. Membungkus dalam kalut, dalam takut.
Lupakan, lupakan saja. Lupakan saja dunia dan isinya. Aku hanya ingin kembali padaMu, Lupakan, lupakan saja semua masalah, Aku hanya ingin cintaMu Tuhan. Lupakan, lupakan saja semua beban, Apapun aku rela, jika itu yang Engkau Kehendaki. Lupakan, lupakan saja semuanya, Ku hanya memohon Tolonglah hambaMu ini menujuMu duhai Tuhan – tuan rumah hatiku.
Foto: @indro_sulistyo