Ini adalah posting pertama saya di tahun 2012. Semua orang berbahagia merayakan pergantian tahun, masih sama dengan tahun – tahun yang sebelumnya. Resolusi – resolusi lama yang dianggap baru dibuat dan kemudian dilupakan lagi sebelum bulan juni, hal lama yang selalu terjadi sama seperti pada tahun-tahun sebelumnya
Bagi mereka yang masih kuliah, ada yang di tahun ini menargetkan bisa mempelajari tentang bab ini itu, lalu kemudian pada akhirnya berhenti di tengah jalan dengan alasan macam- macam yang dibuat – buat, entah alasan fasilitas, sulitnya birokrasi kampus atau apapun yang sebenarnya tidak patut untuk dijadikan alasan untuk menghentikan sikap dan kemauannya untuk belajar.
Itu hanya contoh yang paling mudah, dimana semangat yang berapi – api pada awalnya kemudian luntur ditengah jalan kemudian menjadikan lingkungan atau apapun menjadi kambing hitam,
Jika kita boleh mengambil contoh dari dunia pewayangan, karena- menurut saya – setiap kisah pewayangan memiliki hikmahnya sendiri yang bisa diambil pelajaran dan implementasinya dalam kehidupan nyata. Sebagaimana istilah “wayang” sendiri yang menurut orang jawa berarti “wewayange urip” alias bayang – bayangnya hidup
Diantara banyak sekali kesatria pewayangan yang patut untuk dijadikan contoh (dan merupakan salah satu dari kesatria pewayangan yang saya kagumi) adalah Bambang Ekalaya
Kesatria yang Belajar Otodidak
Siapakah Bambang Ekalaya? Dia adalah seorang ksatria dengan kemauan keras serta bakat yang luar biasa, pribadinya demikian tangguh dan gagah berani menapaki kehidupan yang sungguh sangat berat dan berkesan tidak adil pada dirinya.
Dia sangat ingin belajar memanah dan ilmu keprajuritan lainnya, kemudian dia mendaftar untuk kuliah di Universitas Sokalima yang rektornya adalah Begawan Durna. Namun karena Begawan Durna sudah terikat janji Bahwa Universitas Sokalima hanya untuk kalangan keluarga Pandhawa dan Kurawa saja maka Bambang Ekalaya tidak diterima jadi mahasiswa Universitas Sokalima.
Namun apakah Bambang Ekalaya putus asa, karena tidak diterima kuliah? Tidak, Bambang Ekalaya kemudian membuat patung perwujudan Begawan Durna, dan sambil membayangkan bahwa patung itu adalah Begawan Durna yang sesungguhnya maka secara otodidak dia mulai belajar memanah (olah kridhaning jemparing) dan ilmu keprajuritan lainnya. Hari demi hari, minggu demi minggu, tahun berganti tahun, secara mandiri dia menganalisa hasil latihannya sedemikian rupa sehingga dia sendiri mampu belajar dari evaluasi kekuarangannya untuk selalu menjadi lebih baik.
Pada suatu waktu akhirnya Bambang Ekalaya yang merupakan murid otodidak berhadapan dengan Arjuna. Singkat kata, dalam pertarungan tersebut, Arjuna sanggup dikalahkan oleh Bambang Ekalaya, dalam versi pewayangan jawa disebutkan, bahkan arjuna mati di tangan Bambang Ekalaya, meskipun kemudian dihidupkan kembali oleh Krisna
Namun atas suatu konspirasi licik, (dalam kisah pewayangan versi jawa) Bambang Ekalaya dibunuh dengan cara yang tidak kesatria. Bambang Ekalaya ditipu untuk merelakan jari manis tangan kanan-nya dipotong oleh ‘patung’ Begawan Durna, yang mengakibatkan kematiannya dikarenakan cincin Mustika Ampal lepas dari tubuhnya.
Sebelum meninggal, Bambang Ekalaya sempat menyatakan sumpah (kutukannya) kepada Bengawan Durna – yang telah membunuhnya – bahwa hal yang sama kelak akan terjadi pada dirinya.
Memang, Doa orang yang dizalimi akan dikabulkan oleh Tuhan, suatu ketika saat Mahabarata terjadi, Arwah Bambang Ekalaya menyatu dalam tubuh Arya Drestadyumena, Kesatria Pancala, yang kemudian memenggal putus kepala Resi Durna hingga menemui ajalnya. (simak lakon Durna gugur)
Apa hikmah yang bisa diambil dari kisah ini adalah: jika saya boleh menafsirkan, bahwa sesakti-saktinya / se-cumlaude-cumlaude-nya alumni Universitas Sokalima (orang yang belajar dengan fasilitas yang sudah ada, infrastruktur tersedia, guru yang mumpuni) tetap akan kalah kesaktiannya dengan mereka yang belajar otodidak (tidak ada fasilitas, infrastruktur, guru namun masih sanggup untuk belajar).
Karena itu kita kewajiban kita adalah menuntut ilmu.bukan menerima ilmu. Dalam kisah ini: Keluarga Pandawa, hanya menerima ilmu dari Begawan Durna, sedang Bambang Ekalaya benar-benar menuntut ilmu. Mereka yang menuntut ilmu tentu akan jauh lebih “ampuh” ketimbang mereka yang hanya menerima ilmu.
Meminjam kalimat Emha Ainun Nadjib
Orang –orang hebat adalah orang yang ditiadakan namun mampu menjadi lebih ada dibanding pihak yang meniadakan.
Orang –orang dengan kaki diborgol kemudian memenangkan lomba lari melawan orang yang memborgol.
Orang – orang yang sayapnya dipangkas namun mampu terbang lebih cepat, tinggi, dan jauh dibanding mereka yang memangkas sayapmu dan evergreen didalam kalbu orang banyak dibanding mereka yang membunuh eksistensimu atau mereka yang diunggul-unggulkan dimuat-muat ditayang-tayangkan dibesar-besarkan siang malam oleh penindasmu
Sekarang pilihan berada ditangan anda, apakah anda seorang “Bambang Ekalaya” yang taft dalam belajar dan menjalani hidup ataukah hanya menjadi seorang “arjuna”?
Referensi
http://maswino.wordpress.com/2008/04/07/kisah-tragis-bambang-ekalaya/
http://tokohwayang.wordpress.com/2009/11/03/bambang-ekalaya/
http://wayang.wordpress.com/2010/07/21/bambang-ekalaya-palgunadi/