Perenungan, Sosial Politik

Mana Yang Boleh Dijual, Mana Yang Tidak

Jika kita ingin suatu peradaban yang bener, kita harus tahu, tentang apa – apa yang pantas untuk diperdagangkan, dan apa – apa yang tidak boleh atau tidak pantas untuk diperdagangkan. Kehancuran bangsa ini disegala bidang karena tidak lagi bisa membedakan mana yang boleh dan mana yang harusnya tidak diperdagangkan.

Ambil contoh ketika pasien berobat, pasien harus membayar sejumlah biaya, karena tempat yang digunakan dokter itu kan nyewa, jadi pasien diminta toleransinya untuk juga urunan mbayar, begitu juga jarum dan obat suntiknya – jika pasien tersebut disuntik. Jarum dan obat suntik itu kan beli. Jadi pasien juga harus mengganti dong, biaya obat dan jarum suntik itu.

Tapi peristiwa dokter mendiagnosa, ngobatin, nyuntik pasien, itu jangan dijadikan barang jualan, karena hal itu sudah masuk wilayah akhlak, wilayah moral yakni melayani seorang seorang hamba Tuhan agar berpindah dari sakitnya menuju sehat. Kira – kira bisa nggak dokter membedakan ini?

Begitu juga ketika di sekolah, murid pasti dikenakan biaya tiap bulannya, karena memang gedungnya itu perlu perawatan, begitupula bangkunya harus dibayar. Tapi peristiwa guru memberikan ilmu itu jangan dijadikan barang dagangan, karena itu juga masuk wilayah akhlak. Jatuhlah nilai ilmu, kalau transfer ilmu dinilai dengan uang.

Terus ada yang nyeletuk,

Jadi guru tidak makan dong?

Ya tetep makan, kan masih banyak hal lain yang bisa dihargai, waktu Si guru harus dibayar, begitupula pengabdian si guru harus dihargai.

Memang bedanya tipis tapi harus dibedakan mana wilayah perdagangan, mana wilayah moral.

Empat bidang yang harusnya murni sebuah pelayanan, dan jangan sampai ada perdagangan disana yakni pendidikan, kesehatan, agama, dan budaya. Empat wilayah tersebut harusnya jangan sampai dimasuki kapitalisme. Jika kita ingin peradaban yang bener – bener peradaban.

Namun sekarang, seperti yang dijelaskan. Ini semua tidak bisa dibedakan, mana yang boleh dijual mana yang tidak pantas dijual semuanya dicampur, agamapun sudah menjadi barang komoditi.

prihatin..

______________

KenduriCinta

Tagged ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.