اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ
Ihdinassirotol mustaqim. Demikianlah bunyi dari ayat ke 6 dari Surat Al Fatihah. Yang merupakan surah yang menjadi Induk dari Al Quran. Hiduplah seperti Al Fatihah maka engkau akan hidup seperti Al Quran, karena tidak ada ayat Qur’an yang begitu banyaknya akan keluar dari mainframe induknya yakni Al Fatihah. Dan yang paling membuat tertarik saya adalah pada ayat ke 6 ini yang kemudian dijelaskan oleh ayat ke 7.
Sebenarnya ini doa yang paling tepat untuk kita semua, yaitu meminta kepada Tuhan agar kita ditunjuki jalan yang benar, jalan yang lurus.
Didalamnya, jika kita ingin lebih jauh lagi – Tuhan tidak pernah meminta kita untuk sukses, atau berhasil, Tuhan hanya menawarkan kepada kita untuk “Berjalan di atas jalan yang benar, dengan cara yang benar, dan tujuan benar”. tidak ada istilah berhasil, gagal, sukses, kreatif atau apapun. Masalah hasil, itu semuanya ada di Tangan Tuhan yang Maha Kuasa.
Kenapa demikian? Karena kita sendiri sungguh – sungguh tidak pernah punya kuasa akan hidup ini, – jangankan hidup, kepada diri kita inipun, kita tidak memiliki kuasa untuk mengendalikannya, jantung yang anda punya – berdetak bukan karena keinginan anda, anda tidak bisa mengatur aliran darah pada tubuhmu, anda tidak mampu mengatur metabolisme tubuh anda, – terlalu banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan dalam hidup ini.
Kita tak pernah bisa menjamin apa yang terjadi besok, kita tidak bisa menjamin apakah usaha yang kita lakukan berhasil atau tidak. Karena itulah Tuhan tidak menyuruh kita untuk sukses, kita hanya diminta untuk “berusaha semaksimal mungkin, seikhlas mungkin, sebenar mungkin” setelah itu masalah hasil, biarkan Allah yang memutuskan.
Sikap seperti ini mengajarkan kita untuk tidak mengkaitkan antara usaha dengan hasil. Mengajarkan kita tentang kerendah hatian. jika suatu saat usaha tersebut membuahkan keberhasilan, Sesungguhnya keberhasilan itu bukanlah dari kita, namun berasal dari Kasih Sayang Tuhan kepada kita. Dan kalaupun usaha kita mengalami kegagalan, itupun tidak masalah, karena bukanlah hasil yang menjadi patokan kepuasan kita, tapi kepuasan, kita dapat dari seberapa sungguh-sungguhkah kita berusaha, seberapa benarkan kita berjuang, apakah Allah meridhoi usaha kita.
Jika kita mampu demikian, hidup tidak akan mudah putus asa, dan lebih kuat dalam menyikapi hidup ini. anda akan ridho dengan semua yang dikehendaki Tuhan pada anda. Tugas kita sebagai manusia adalah terus berusaha berusaha berusaha, berdoa berdoa berdoa, berbuat baik, berbuat baik, berbuat baik.
Semoga kita semua ditunjukkan jalan yang benar.. amiin..