Hari ini 2 Oktober 2009 berbeda dari biasanya, dalam rangka memperingati diakuinya batik sebagai warisan budaya dari Indonesia oleh UNESCO, setiap orang – tidak perduli tua muda, pria maupun wanita, mulai dari pegawai negeri ini hingga karyawan swasta mengenakan batik. Tidak biasa? ya, tidak biasa – karena kesan batik adalah pakaiannya orang – orang tua jaman dulu, pakaian yang hanya dikenakan ketika ada kondangan pernikahan atau hajatan. Dan jika ada yang paling sering mengenakan pakaian batik adalah tentu para Pegawai Negeri Sipil – itupun pada hari jum’at. Batik tenggelam hanyalah sebagai pakaian seremonial – dan lebih diperparah lagi oleh para kalangan muda yang malu dan gengsi untuk mengenakannya.
Bersyukur negara tetangga kita yang baik hati itu mengingatkan akan besarnya potensi budaya kita. Mereka sempat mengklaim dan berusaha mematenkan salah satu motif batik yang berasal dari Yogyakarta. Aksi negeri jiran ini membuat para anak muda sadar akan pentingnya budaya dan peradaban kita. Bahwa sesungguhnya kita tidak pernah kehilangan kebanggan sebagai sebuah bangsa. Mungkin kita saja yang menggadaikan kebanggan itu demi sebuah gengsi. Nasionalisme tidak lebih hanyalah tema yang diangkat setiap tujuh belasan agustus dan kemudian ditinggalkan. Nasionalisme hanyalah ada ketika bangsa lain mulai mengklaim budaya kita – namun jika tidak, kitapun kembali kepada kebiasaan egoisme masing – masing. Nasionalisme hanya ada dalam bentuk konfrontasi, tidak ada yang lain dari hal itu.
Marilah berterimakasih kepada negara jiran yang telah berbaik hati mengingatkan kita semua bahwa sebenarnya kita bukanlah bangsa yang miskin dan terbelakang. Kita adalah bangsa besar yang memiliki segala potensi dan budaya untuk bisa maju ke depan sebagai bangsa yang memimpin dan menentukan sejarah dunia. Tiada hal yang mustahil kala pemuda bergerak – Bung Karno dalam pidatonya mengatakan
Berilah saya satu pemuda maka saya akan mengguncang Indonesia. Beri Saya tiga pemuda dan saya akan mengguncang dunia.
Benarlah, bahwa kita sebagai manusia haruslah saling ingat dan mengingatkan. Dan tentu Malaysia sebagai sebuah negara telah mengingatkan kita akan sebuah hal yang sering kita abaikan. Kini giliran kitalah yang mengingatkan kepada mereka (Malaysia) bahwa sebenarnya kita juga adalah bangsa yang besar dan berdaulat yang tidak bisa dipermainkan atau diganggu oleh negara manapun dan mari bersama menunjukkan pada dunia bahwa kita tidak hanya mampu menentukan sejarah Asia Tenggara namun bahkan sejarah dunia.
_________
*) gambar diambil dari
http://menteridesainindonesia.blogspot.com/2009/01/24-rekor-dunia-yang-dimiliki-indonesia.html
Justru Negeri malaysia yang harus berterima kasih ke indonesia karena tidak menyebut mereka sebagai pencuri,otak dengkul dan penghasil gembong teroris … !
setuju bgt sm sej4r4h duni4.. 😉
Memang sudah diingatkan,tapi dengan cara salah. Malaysia juga tidak punya niat mengingatkan. Itu hanya untuk kepentingan bisnis turisme, buktinya bukan cuma batik yang diklaim, ada sekitar 20-an produk budaya kita diklaim untuk bisnis itu.
mungkin lebih tepatnya Tuhan telah mengingatkan lewat malaysia 🙂