Keseharian, Perenungan

Bulan Syawal Bulan Peningkatan

Ramadhan yang mulia telah lewat, Idul Fitri pun telah dijalani. Hari Kemenangan dirayakan. Banyak orang senang menyambutnya dengan beragam alasan, ada yang senang karena telah mampu memenangkan dalam pertempuran melawan hawa nafsu. Ada pula yang senang karena puasa 1 bulan telah dijalani sehingga sekarang mereka tidak perlu untuk berpuasa lagi, dan bisa bebas makan, tidak perlu lagi bangun pagi – pagi buta untuk makan sahur seperti halnya sebelum Ramadhan.

Tentu kegembiraan itu tidak boleh melupakan esensi dari tujuan Bulan Ramadhan itu sendiri yakni menjadikan manusia bertakwa. Lalu apa ukuran takwa itu? Mungkin banyak ustadz telah membahas bagaimana kriteria takwa itu. Meski sebenarnya hanya Allah yang mengetahui siapa – siapa manusia yang benar – benar bertakwa kepadanya.

Ibarat gatot kaca yang digembleng di kawah Candradimuka sehingga berubah menjadi manusia yang sakti mandraguna dan memiliki otot kawat dan balung wesi. Apakah kita menjadi manusia yang berubah menjadi lebih baik setelah kita digembleng di Kawah Ramadhan? Tentu kita tidak berharap menjadi orang yang hanya mendapatkan tidak lebih dari lapar dan dahaga dari 1 bulan puasa yang kita jalani.

Tentunya apa yang kita lakukan setelah bulan Ramadhan harus menimbulkan bekas. Sehingga kita menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya karena sungguh merugi orang yang sama dengan kemari dan benar – benar celaka orang yang lebih buruk dari kemarin.

Kita tentu harus berharap untuk menjadi orang yang lebih baik di Bulan Syawal ini sebagaimana arti dari syawal itu sendiri yang berarti peningkatan.

Tagged , , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.