Fisika, Keseharian, Perenungan, Sains dan Teknologi

Menatap Bulan

“Mungkinkah kamu sedang menatap bulan?”

“Bulan sabit yang sedang kupandangi”

Pada malam yang cukup cerah dengan sedikit awan di langit, kita bisa melihat bulan yang bersinar di kegelapan malam. Kita semua tentu sudah tahu dari mana sinar bulan itu berasal. Bulan adalah satelit alami bumi yang berukuran seperempat ukuran Bumi dan beredar mengelilinginya setiap 27.3 hari, pada jarak rata-rata 384,400 kilometer di bawah tarikan gravitasi Bumi. Akibat peredarannya inilah bulan mengalami fase – fase dari fase bulan baru sampai fase bulan purnama dan kemudian mengalami fase yang disebut fase bulan mati. Jarak dar fase bulan baru ke bulan baru berikutnya atau dari bulan purnama ke bulan purnama berikutnya adalah 29,5306 hari yang kita sebut dengan periode sinodik.

Ketika bulan berada diantara Bumi dan Matahari, sisinya yang gelap menghadap ke bumi sehingga sudah barang tentu bulan ini tidak akan terlihat oleh kita yang berada di bumi. Fase ini dinamakan fase bulan baru. Setelah bulan baru, maka fase berikutnya adalah fase bulan sabit yang nampak seperti benang yang bisa kita lihat di langit barat sesudah matahari tenggelam. Lama kelamaan sabit tersebut menjadi lebar hingga menjadi separuh, fase bulan ini kita sebut dengan fase bulan separuh. Kemudian tujuh hari setelah fase bulan separuh, kita bisa melihat gambaran penuh dari bulan, fase bulan ini kita sebut dengan bulan purnama. Tujuh hari kemudian penampakan bulan kita ini kembali menyusut sehingga kembali lagi kepada fase bulan separuh. Begitulah seterusnya hingga bulan kita ini kembali mengalami fase bulan sabit yang kemudian terus – menerus dan pada akhirnya dia menghilang. Fase ini kita sebut dengan bulan mati.

Sungguh begitu Maha Bijaksananya Allah yang telah menciptakan Bulan dengan hikmah yang luar biasa terkandung di dalamnya. Sudah lama sekali bulan digunakan oleh orang zaman dahulu untuk menetapkan kapan waktu bertanam, kapan waktu baik untuk berlayar dan lain sebagainya. Penanggalanpun dibuat dengan menggunakan sistem kalender peredaran bulan yang kita kenal dengan kalender Qomariah.

Namun selain itu saya baru sadar ternyata bulan kita adalah cermin dari kita sendiri, kita dulu diciptakan dari tidak ada (fase bulan mati) kemudian dilahirkan sebagai bayi oleh ibu kita (fase bulan sabit). Setelah itu kita tumbuh pelan dari masa kanak – kanak menuju masa remaja ( fase bulan separuh) lalu kemudian kita tumbuh dewasa dan mencapai puncak – puncak keemasan kita (fase bulan purnama). Namun setelah itu lama kelamaan kita pasti akan mengalami apa yang disebut penurunan. Semakin tua, maka kondisi tubuh kita akan semakin lemah, fisik kita akan terus menurun seperti halnya bulan yang kembali menyusut menjadi fase bulan separuh yang kemudian terus menerus menyusut menjadi bulan sabit. Di saat itu tubuh kita menjadi lemah dan rentan seperti bayi, kita akan mengalami kepikunan dan pikiran kita akan kembali seperti anak – anak. Kemudian lambat laun kita akan menghilang dari langit hidup ini, inilah yang disebut fase bulan mati.

Sekarang, setiap saya melihat bulan di langit yang cerah ini, saya selalu ingat bahwa cepat ataupun lambat, kelak saya pasti akan menghadapi apa yang disebut mati……

Semoga kita digolongkan oleh Allah sebagai orang – orang yang Khusnul Khotimah…..

Amiin…

____________________

Mereka bertanya kepada engkau dari hal hilal Katakanlah hilal itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji (QS. 2:189)

Tagged , , , , ,

2 thoughts on “Menatap Bulan

  1. kira2 manusia serigala berubahnya pas blan fase apa yah,,
    (^^)V

    ted,,cari deh,,
    knpa suka ad beda tanggal buat ramadan anatara NU ama muhamadiyah,,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.