Sang malam sekarang duduk dengan tenang dalam singgasana kesunyian, menyaksikan para pecinta yang sedang diliputi rasa rindu sembari mengagungkan nama Allah. Angin berkejar-kejaran dengan dingin di tanah gelap. Saat ini, tahukah duhai sahabat hatiku, seluruh elektron di hatiku yang selama ini mengorbit di lintasan valensi jiwaku, kini sedang dalam keadaan terksitasi, dan mengeluarkan cahaya kerinduan. bukan karena apa-apa dan juga bukan apa-apa. Tapi tentu tidak ada salahnya aku berbagi cerita dengan sahabat hatiku.
Karena bagaimana mungkin engkau dapat menyelami samudera jiwaku sebelum kau berenang di sungai duka citaku? Aku hanyalah seekor kecil semut yang sedang bergembira di sebuah lumbung padi, yang sedang menyeret-nyeret sebutir kecil bulir beras yang terlampau berat aku bawa. Sebenarnya apa yang aku katakan tidaklah penting, dan tidaklah penting untuk memahaminya. Karena kita hanya perlu paham bahwa kita ini hanyalah sebuah karakter fiksi dalam novel-Nya. Bagaimana jalan hidup kita kelak adalah berada di pena Tuhan.
Tahukah engkau duhai sahabat hati. Siang malam tiada pernah dia berhenti meracuni aku, dia telah menjadi udara di setiap nafasku, dia telah menjadi matahari di langit siangku. Dia adalah hawa bagi adam jiwaku, dia merupakan isotop hati ini. Duhai angin, maukah engkau membisikan pesan rinduku untuknya, menemani di setiap sepinya, dan menghibur di setiap sedihnya
Mengapa kau bertanya kepadaku, aku sendiri sedang kebingungan saat ini, aku tidak bisa menjelaskan dengan bahasa manusia tentang apa yang aku rasa. Lantas bagaimana aku harus menjawab seluruh pertanyaanmu? Semoga diam adalah jawaban yang bisa menjelaskan segalanya, karena kata-kata tidak mampu menjelaskan semua ini.
Duhai Tuhanku yang Maha Agung, Kepada siapa lagi aku harus menyeru jika bukan kepadaMu? Jika hanya orang baik yang boleh menyeru kepadamu. Lantas kepada siapakah seorang pendosa harus memohon ampun dan meminta? Sudikah kiranya engkau untuk menjadikan seseorang yang Engkau takdirkan untuk hatiku mencintainya, agar kita mampu bertemu hati.
Lagi jatuh cinta rufa-na… 🙂
Ahh… emang bener, bikin puisi itu kudu pake hati, kagak bisa dipaksain… ane kalo buat puisi pasti amburadul 🙂
Puisina bagus bang!!!
wah terimakasih…cuman lagi iseng doank kuk…bukan puisi kuk ..kan tidak ada bait2 nya…lalu apa ya kalo bukan puisi..heheheh…gw sendiri bingung 🙂