Musa menaiki bukit Sinai dan berkata, “Tuhanku, saya sudah dipermalukan di hadapan setiap orang karena Engkau tidak datang seperti yang Engkau janjikan.” Tuhan menjawab, “Aku sudah datang. Aku telah menemui kamu langsung, bahkan ketika Aku bicara kepadamu bahwa Aku lapar, kau menyuruh Aku mengambil air. Sekali lagi Aku minta, dan sekali lagi engkau menyuruh-Ku pergi. Baik kamu maupun umatmu tidak ada yang menyambut-Ku dengan penghormatan.””Tuhanku, seorang tua memang pernah datang dan meminta makanan, tapi ia hanyalah manusia biasa,” kata Musa.”Aku bersama hamba-Ku itu. Sekiranya kamu memuliakan dia, kamu memuliakan Aku juga. Berkhidmat kepadanya berarti berkhidmat kepada-Ku. Seluruh langit terlalu kecil untuk meliputi-Ku, tetapi hanya hati hamba-Ku yang dapat meliputi-Ku. Aku tidak makan dan minum, tetapi menghormati hamba-Ku berarti menghormati Aku. Melayani mereka berarti melayani Aku.”
Kisah di atas sepertinya patut untuk kita renungkan di jaman yang serba materialis sekarang, dimana jarang sekali ditemukan orang yang perduli kepada sesamanya. Mungkin egosime telah melanda di negeri ini, sehingga (dengan sangat aneh) mereka bisa berpesta pora di saat saudaranya yang lain menderita. Apakah kita adalah salah satunya? Mungkin hanya kita yang bisa menjawabnya.
Rasulullah bersabda :
Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, seseorang tidak beriman hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.
Dalam Al Quran, Allah telah memerintahkan kita :
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Berbaktilah kepada kedua orangtua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, orang-orang yang kehabisan bekal, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, yaitu orang-orang yang kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Kami telah menyediakan orang-orang kafir seperti itu, siksa yang menghinakan.” (QS.Al-Nisa’,36-37)
Allah hanya memandang hati hambanya, Segala amal tergantung niat dari dalam hati. Apakah kita termasuk orang yang ikhlas beribadah hanya karena Allah (Muhklasin) atau tidak???. Orang yang ikhlas karena Allah memiliki kedudukan yang tinggi di hadapanNya
Allah hanya memandang hati hambanya, Segala amal tergantung niat dari dalam hati. Apakah kita termasuk orang yang ikhlas beribadah hanya karena Allah (Muhklasin) atau tidak???. Orang yang ikhlas karena Allah memiliki kedudukan yang tinggi di hadapanNya
hm…benar sekali fifit..
dan juga untuk mencintai ALLAH kita harus mencintai juga sesama manusia
🙂