Sudah sekitar satu bulan saya tidak mengisi blog ini. Sebenarnya saya masih aktif blogging, namun di blog sebelah, elektronika.ruangtedy.net. Agak menyusahkan memang mempunyai banyak blog. Agak? Susah banget kali ya. Ya, mungkin pas awal bikin banyak blog dalam kondisi masih kuliah, alias kurang kerjaan. Dan kini berhubung sudah banyak kerjaan. ya akhirnya terbengkalai.
Sebenarnya tidak hanya tidak ada waktu, waktu pasti ada, cuma apakah kita mau menyempatkan diri atau tidak. Tapi sebenarnya juga tidak ada bahan yang menarik untuk dijadikan tulisan. Terkadang jengah juga, melihat isi berita ataupun media sosial, yang menyoroti secara parsial sebuah kejadian. Sebagaimana yang baru – baru ini terjadi tentang unjuk rasa para sopir taksi yang menuntut ditutupnya layanan ride sharing berbasis online. Saya menyebut ride sharing, namun banyak media secara bias menggunakan istilah “taksi online” dalam berbagai bahan pemberitaannya. Padahal keduanya berbeda. Layanan seperti Uber dan Grab Car adalah layanan ride sharing bukan taksi online, yang belum ada regulasinya di indonesia.
Memang kedua layanan tersebut, bersama ojek online, sekarang menjadi primadona para pengguna transportasi di jabodetabek. Di masyarakat sendiri terdapat dua kubu yang pro dan kontra. Semua dengan argumennya sendiri – sendiri. Namun menurut saya kesalahan teramat besar ada pada pemerintahan yang tidak mengambil sikap yang jelas, mengenai layanan seperti uber, gojek, dan grab. Tidak ada regulasi mengenai layanan tersebut. Para penyedia jasa berkilah bahwa dirinya bukanlah perusahaan transportasi, namun hanya perusahaan teknologi yang menjembatani antara driver dengan penumpang. Sebuah fenomena baru yang belum ada regulasinya di indonesia selama ini.
Apa artinya? Artinya jika suatu aktivitas tidak memiliki pijakan hukum yang jelas, maka tentu akan membingungkan masyarakat, dan dalam sebuah negara demokrasi, jika sebuah kebingungan dibiarkan berkembang, maka kebingungan masyarakat itulah yang nantinya menjadi hukum. Maka kemudian jangan salahkan jika terjadi aksi kisruh saat demonstrasi pengemudi taksi baru – baru ini, karena semua itu dilandasi dari ketidakmenentuan sikap pemerintahan kita. Namun jika mau dilihat dalam kerangka yang lebih besar lagi, sebenarnya akar permasalahannya ada pada tidak beresnya transportasi publik yang ada di jabodetabek.
Oke, lupakanlah masalah transportasi online. Tuhan tidak menuntutmu mengubah apa yang berada di luar kuasamu. Yang terpenting kita paham apa yang benar dan bagaimana yang seharusnya dilakukan sebuah pemerintahan yang sehat.
Sekarang waktunya mempersiapkan diri kembali, di hari senin besok, setelah libur panjang, untuk kembali bergelut dengan rutinitas. Oh, besok saya ke jakarta untuk sebuah project. Semoga urusan kita semua lancar ya!