S
aya membuat tulisan ini pada malam tahun baru di tanggal 31 Desember 2015. Kira – kira hitungan jam lagi perhitungan kalender masehi masuk di tahun 2016. Seperti biasanya, kala malam tahun baru saya mengurung diri semalaman di kamar sendirian. Mengasingkan diri dari riuh rendah euforia manusia yang tumpah ruah ke jalanan. Berkumpul menyalakan petasan dan kembang api yang membumbung ke angkasa. Saya begitu takut pada keramaian, karena ia adalah gembok amat rapat bagi ilmu pengetahuan dan kedalaman
Tahun adalah satuan waktu yang sama dengan satuan waktu lainnya, detik, menit, hari, minggu dan bulan. Pergantian tahun menurut perhitungan kalender masehi adalah peristiwa astronomi dimana bumi (kira – kira) telah menyeleseikan satu putaran revolusinya. Lalu, seperti yang saya pernah bahas sudah – sudah, apa yang kita rayakan di pergantian tahun ini? Pergantian tahun adalah peristiwa berjalannya waktu dari satu titik ke titik lain. Apakah waktu bisa dirayakan? Tidak. Yang dirayakan adalah momen. Jika waktu diibaratkan wadah, maka momen adalah kegiatan manusia yang mengisinya.
Kita memiliki banyak satuan waktu lainnya, yang masing – masing memiliki pergantian tahun-nya sendiri. Seperti di dunia pemerintahan, ada yang disebut tahun anggaran, atau juga di dunia pendidikan dikenal dengan tahun ajaran. Maka di setiap ujung dan menjelang pergantian tahun selalu ada yang disebut dengan muhasabah, evaluasi, kalkulasi entah itu berupa raport, IPK dan lain sebagainya. Maka begitupula di pergantian tahun adalah tempat muhasabah diri, wadah mengkalkulasi dan melakukan review ke belakang atas apa yang telah kita lakukan. Apa saja yang perlu dievaluasi? Saya serahkan itu kepada para pembaca tulisan saya. Saya hanya ingin mengutip sebuah ayat Al Quran
Demi Ashr. Sesungguhnya manusia itu benar – banar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati dalam kesabaran.
(QS. Al Ashr 1-3)
Allah bersumpah demi maklukNya yang bernama waktu, ada sebagian ulama yang mentafsirkan sebagai waktu Ashar. Mengapa waktu Ashar? Menurut saya, Ashar adalah waktu yang begitu pendeknya menjelang maghrib yang berarti tanda pergantian hari. ( di dalam kalender hijriah, pergantian hari ditandai dengan maghrib bukan pukul 00:01). Ada apa di ujung pergantian hari? Mari kita perluas makna waktu ashar disini yang juga bisa merujuk pada pergantian satuan waktu lain, detik, menit, bulan juga pergantian tahun, atau bahkan satuan waktu hidup kita di dunia, yang akan mengalami maghrib, terbenamnya matahari, terkuburnya jasad kita kembali ke tanah.
Allah memberi tahu kita bahwasannya di tiap pergantian waktu yang amat sempit ini, kita secara default berada dalam keadaan rugi terus menerus. Mengapa manusia merugi? Saya melihat salah satu sebabnya di surah sebelum Al Asr yaitu At takasur tentang peringatan Allah terhadap manusia yang bermegah – megahan, yang kemudian membuatnya terlena hingga pada akhirnya tiba saatnya masuk ke dalam kubur. Kecenderungan manusia untuk berperilaku konsumtif, berpola hidup hedonistik dan menuruti hawa nafsu memang sangat besar. Semua itu memang sering membuat kita terlena hingga kita sampai pada ujung waktu Ashar.
Maka untuk menjalani hidup ini tidak ada bekal terbaik, selain kesadaran bahwa sekarang kita sedang merugi. Dengan modal kesadaran penuh akan hal ini, kita akan lebih berlaku sangat hati – hati dan lebih waspada agar tidak tambah merugi lagi alias bangkrut, semoga kiranya Allah sudi mengampuni kerugian tersebut. Itulah yang mungkin dimaksud di ayat 3, hanya orang yang beriman yang menghitung – hitung dirinya dan menyadari kerugiannya, yang akan tekun untuk beramal sholeh, dan saling mengingatkan kepada saudarannya dalam kebenaran dan kesabaran.
Dalam kasus euforia malam tahun baru ini. Logika sayapun menjadi tak habis pikir, apakah hubungan antara pergantian tahun dengan kembang api? Ataukah mungkin kembang api yang nantinya kita sulut, terompet yang kita tiup pada dini hari nanti adalah atas prestasi iman, amal sholeh yang kita kerjakan dalam satu tahun ini. Ataukah kita sedang bermegah-megahan merayakan kerugian – kerugian yang bahkan tidak kita sadari sebagai kerugian?