Keseharian

Sanggup Merasa Bodoh

Sudah lama rasanya saya tidak membuat tulisan selfie, alias tulisan ‘curhat’ tentang diri sendiri, alih – alih malah kebanyakan  memposting pemikiran – pemikiran yang serius – serius. Tapi ya nggak apa- apa, namanya manusia kadang kan tulisannya bisa situasional, kadang begini kadang begitu, tergantung situasinya bagaimana.

Karena kesibukan akan banyaknya pekerjaan (sebenarnya ga begitu sibuk juga sih :mrgreen: ). Membuat saya semakin jarang memposting tulisan di sini. Dulu, semasa kuliah, setidaknya saya menyempatkan seminggu sekali untuk posting tulisan baru, sekarang jangankan seminggu sekali, sebulan sekali saja sudah syukur alhamdulillah hehe

Rasanya, dua tahun lebih sudah, semenjak saya diwisuda, semenjak saya dinyatakan lulus dari ‘kampus’ tempat dimana saya kuliah. Semenjak itu pun saya pertama kali bekerja ‘full time’.  Namun bekerja bukanlah berhenti belajar, namun justru disitulah masa belajar sesungguhnya. Terlebih pekerjaan saya bukanlah pekerjaan pada bidang yang sama dengan tempat dimana saya kuliah. Saya kuliah di Perguruan Tinggi Bab “Nuklir” namun bekerja di Perusahaan IT sebagai Application Developer, Alias programmer, cukup njomplang bukan?

Tapi justru disitu letak bersyukurnya, karena saya merupakan orang “di luar lingkaran” saya jadi punya banyak bahan untuk lebih giat belajar, apalagi profesi seorang programmer, dikarenakan dinamisnya perkembangan teknologi pemrograman, menuntut saya untuk terus belajar dan belajar. Namun semakin saya belajar, malah saya semakin sadar, bahwa saya semaki merasa bodoh.

Ya begitulah manusia, ia hanya dapat dijadikan mandataris alam semesta adalah dengan argumentasi bahwa manusia itu dholuman jahula – Lalim dan bodoh.  Maksudnya, manusia sanggup menjadi “khalifah” karena modal utamanya adalah rasa bersalah telah berbuat lalim, belum bisa menolong orang lain, sehingga ia senantiasa mendorong diri untuk berbuat sebaik-baiknya.

Modal utamanya adalah sanggup merasa bodoh, tidak pinter, tidak unggul dari siapapun — sehingga ia selalu berendah hati untuk mau terus belajar.

Tagged

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.