Perenungan

Merdeka dan Berdaulat Dalam Puasa

Puasa itu UntukKu

Ketika Allah mengungkapkan “Puasa itu untukKu”, kita harusnya memahami dengan arif, bahwa itu bukan berarti Allah membutuhkan puasa kita, Allah terlalu Akbar untuk membutuhkan ibadah manusia. Kita tahu segala sesuatu ibadah itu adalah untuk Allah,  Dan segala sesuatu yang untuk Allah, sebenarnya adalah untuk kepentingan manusia itu sendiri.

Bulan Ramadhan memang telah berlalu, namun bagi saya pribadi, saya tidak bisa menemui bulan yang lain selain bulan Ramadhan, bahwa bulan syawal itu adalah Ramadhan yang lebih meningkat, dimana manusia harusnya meningkatkan puasanya dari sekedar tidak makan minum menjadi puasa – puasa yang lebih khusus dan kontekstual nilainya.

Setiap kita berpuasa, maka setiap itu pula kau temui “Idul Fitri”-mu. Idul fitri bermakna kembali suci, yang diibaratkan adalah kembali sebagaimana halnya bayi yang baru lahir. Puasa, – meminjam terminologi yang digunakan Muhammad Ainun Nadjib adalah metode untuk menuju “Makan yang sejati”, maksudnya adalah puasa akan mengantarkan pelakunya untuk meninggalkan segala sesuatu ketergantungan kepada yang bukan Allah, sehingga ketika dia makan dan minum saat maghrib tiba itu bukan atas dorongan nafsunya, namun karena mematuhi apa yang menjadi perintah Allah.

Puasa Menuju Makan Yang Sejati

Makan yang sejati adalah makan untuk kebutuhan biologis tubuh, bukan untuk melayani nafsu, makan untuk kebutuhan biologis tubuh hukumnya adalah wajib, namun makan untuk kebutuhan biologis bersifat terbatas, karena itulah Rasulullah mengajari kita untuk berhenti makan sebelum kenyang, maksudnya adalah kita diajari untuk mengenali batas dari keperluan biologis tubuh kita. Atau dengan istilah yang lebih sederhana  puasa adalah Bagaimana kita bisa memamahi batas kebutuhan kita, sehingga kita jeli bisa membedakan mana yang merupakan kebutuhan dan mana yang merupakan nafsu.

Jadi, ketika engkau berpuasa, maka engkau akan kembali fitri, maksudnya engkau akan suci dari kepentingan nafsumu, seperti halnya bayi yang baru lahir, ia merdeka dari segala kepentingan. Bayi menangis meminta makan hanya tatkala ketika ia lapar. Bayi menangis meminta minum hanya ketika haus. Bayi  hanya melakukan sesuatu yang menjadi fitrahnya sebagai seorang bayi. Bayi hanya mengerjakan apa yang menjadi kebutuhan dari dalam dirinya bukan atas kepentingan luar maupun kepentingan nafsunya.

Jika kita tarik konteksnya kepada kehidupan sosial budaya yang ada di sekitar kita.  Benarkah kita merdeka, sebagai manusia, sebagai rakyat, ataupun sebagai bangsa, jika budaya dan pembangunan kita mengacu pada  “pelampiasan” atas nafsu dan bukannya malah berpuasa? Selama kita tidak mampu berpuasa dalam pengertian kontekstual, selama itu pula kita akan dibodoh-bodohi dan dipermainkan, karena yang menjadi ketergantungan kita bukan lagi Allah, tapi sumber – sumber pelayanan nafsu tersebut.

Saya ambil contoh bagaimana spekulan bisa dengan bebasnya memainkan harga daging, harga bawang putih, harga cabe dan kebutuhan pokok lainnya. Di satu sisi ini disebabkan karena kita tidak punya kedaulatan yang penuh terhadap pangan kita, namu di sisi lain, kita sebagai rakyat tidak memiliki budaya untuk berpuasa.

Ibrahim Bin Adham, seorang tokoh sufi yang hidup dari tahun 718H –  782H  pernah didatangi oleh seorang yang mengeluhkan harga daging yang terus naik. Mendengar ini, Ibrahim Bin Adham menjawabnya : 

“jadikan barang itu murah dengan “tidak usah membelinya” bila kamu tidak membelinya maka barang tersebut tidak akan mahal”.  

Atau dengan bahasa lain, jika harga daging naik, maka harusnya kita punya ketangguhan mental untuk berpuasa dari mengkonsumsi daging, sehingga dengan itu,  jumlah permintaan akan menurun, maka sesuai hukum ekonomi, ketika permintaan menurun, harga daging akan kembali normal.  Spekulan juga tidak akan lagi berani mempermainkan harga karena ketika harga mahal, barang yang dijualnya  tidak akan laku.

Bayangkan bagaimana kuatnya petani kita jika mereka memiliki budaya berpuasa, ketika spekulan pupuk memainkan harga pupuk, maka seluruh petani  bisa kompak untuk berpuasa tidak menggunakan pupuk dan mencari alternatif selain pupuk. Memang, mungkin hasil panennya waktu itu tidak akan sebaik ketika menggunakan pupuk, -dan di sinilah letak puasanya- namun jika ini dilakukan secara konsisten, setidaknya 3 kali masa tanam, maka saya punya keyakinan harga pupuk tidak akan lagi bisa dipermainkan oleh para spekulan. Karena mereka akan berpikir ribuan kali sebelum memainkan harga.

Berdaulat dan Merdeka Dalam Puasa

Nah, mengapa kita tidak memiliki ketangguhan mental seperti ini? Karena budaya yang kita cerna adalah budaya pelampiasan bukannya berpuasa. Bagaimana dengan sistematisnya kita diseret secara kultur untuk membeli barang yang bukan atau setidaknya belum merupakan kebutuhan yang berasal dari dalam diri kita.  Kita diiming-imingi oleh segala hal yang berada di depan mata kita, aneka macam segala benda – benda mewah yang sebenarnya tidak kita perlukan. Dan ketika keinginan itu jomplang dengan realitas pendapatan kita, maka manusia akan didorong untuk melakukan segala hal, termasuk segala yang dilarang seperti mencuri, korupsi atau yang paling halal adalah berhutang.

Ketika manusia terjebak hutang, maka bagaimana mungkin mereka bisa merdeka? Ketika para petani terjerat hutang, maka bagaimana dia bisa bebas menentukan pilihan. Ketika negara ini terjebak hutang, maka bagaimana mungkin mereka bisa berdaulat?

Maka strategi ‘musuh’ yang paling jitu untuk membuat manusia terjajah adalah bagaimana caranya agar mereka bisa diseret menjadi seorang yang materialistis dan hedonis, sehingga budaya yang dikenyamnya adalah budaya pelampiasan. Dengan budaya pelampiasan, maka hakikatnya mereka bukan lagi merdeka tapi sudah terjajah.

Itulah mengapa dengan CintaNya, Tuhan mengajari manusia untuk berpuasa. Mengulang tulisan saya diawal –Puasa memang untuk Allah, tapi segala sesuatu yang untuk Allah adalah untuk kepentingan manusia itu sendiri, karena manusia itu khalifah di muka bumi, dan bagaimana mungkin manusia bisa menjadi khalifah jika tidak merdeka? dan bagaimana manusia bisa merdeka jika budayanya adalah pelampiasan dan bukannya berpuasa?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.