Dunia sebagai Metode atau Tujuan?
Menurut budaya dan sikap perilaku manusia berserta tata sistem yang dimiliki, ada yang memandang dunia ini sebagai tujuan. Seluruh aktivitas manusia dilaksanakan dengan membuat sebuah asumsi bahwa dunia adalah final dan segala – galanya. Mulai dari orang lahir, bersekolah, bekerja hingga berkarir tujuannya adalah mengejar dunia.
Ada juga pandangan yang berbeda yang menjadikan dunia sebagai titik tolak untuk melangkah ke akhirat, dunia hanya sekedar jalan, fasiltas, infrastrukturnya, namun produknya atau hasil akhirnya adalah akhirat. Setiap kegiatan di dunia hanyalah jalan untuk menuju akhirat. Menurut pandangan ini, berkedudukan tinggi, jaya di mata masyarakat, atau kemenangan diantara manusia tidak dihayati sebagai surga. Juga setiap kekalahan, kemiskinan dan penderitaan di dunia tidak dianggap sebagai neraka. Karena surga neraka adalah hasil dari penyikapan manusia dari semua keadaan yang ada di dirinya.
Menduniakan Segala Sesuatu
Namun sekarang ini, di jaman yang semakin materialistis, segala sesuatu sudah diputarbalikan orientasi dan tujuannya. Apa saja harus bernilai materi, segala sesuatu baru dihargai jika memberi keuntungan yang sifatnya materiil, mulai dari dari bangun tidur hingga tidur lagi tujuannya tidak jauh – jauh dari materi. Padahal harusnya dunia sebagai tempat persinggahan, sebagaimana dulu orang jawa punya filosofi
“Urip kuwi mung sak dermo mampir ngombe”
Fokus makanan utama adalah akhirat, sedangkan dunia itu adalah lauk dan sayurnya. Namun sekarang-kan, sudah ngga seperti itu
Betapa sekarang dunia telah menjadi tujuan segala sesuatu, apa saja dilakukan manusia untuk kepentingan dunia, hingga menjalankan “ibadah” yang harusnya bersifat ukhrawi juga tidak ketinggalan diseret-seret kepada kepentingan “dunia” yang materialistis. Sholat Dhuha berharap “rejeki” (dalam pengertian yang materialis) lancar, puasa rajin — berharap naik pangkat atau kepentingan duniawinya terkabul, dan juga yang paling populer sekarang ini adalah: sedekah dengan niat agar bisa kaya dan hartanya berlipat -lipat duniawi
Bukannya apa – apa, namun menurut pendapat saya pribadi, ini sungguh melukai esensi ibadah. Karena, ibadah yang harusnya bernilai tinggi, kemudian harus diseret – seret ke dalam kepentingan kapital yang kalkulatif terhadap untung rugi?
Adab dan Tata Krama Kepada Tuhan
Yang terpenting dari hubungan seorang hamba kepada Tuhan adalah masalah Adab dan tata krama. Tuhan, telah memberikan nafas, detak jantung, tanah yang hijau, hutan yang lebat, sawah yang menghampar, bahkan niat untuk beribadah itu dari siapa jika bukan dariNya? Lantas, masih pantaskah kita, jika dalam masalah ibadahpun, kita masih itung-itungan dengan Tuhan? Berbuat baik saja kok masih minta ganti rugi? apa kita sudah ngga punya malu pada Gusti Allah?
Padahal segala sesuatu tergantung pada niatnya. Jika bersedekah agar ingin sukses, kaya, dan harta berlipat duniawi, bukankah malah menghilangkan pahala sedekah? “Walaa tamnun tastaktsiir”,– kalau kamu memberi jangan pernah berharap akan mendapat balasan lebih banyak. Karena harusnya “Walal akhiroti khoirul laka minal ula”?, — kehidupan akhirat itu lebih utama daripada dunia
Jika ingin berbuat baik, lakukan saja perbuatan baik itu dengan tulus tanpa perlu ‘menagih Allah’ dan berharap – macam – macam. Segala yang sudah pasti datang kenapa masih perlu ditagih? Jika kita lillahitalla ya sudah pasti Tuhan bakal mencukupi rizkimu. Jadi, ngga perlu merisaukan sesuatu yang sudah jelas-jelas dijamin Tuhan, itu jika kita punya unggah-ungguh kepada Allah.
Tidak Ada Gunanya Mencari Faedah Atas Amal
Juga saya rasa, tidak ada gunanya mencari – cari bermacam-macam faedah dan kegunaan dari ibadah yang kita lakukan. Sesuatu yang sudah jelas baik tidak perlu lagi ditanyakan apa gunanya, karena malah bikin rentan terkena sifat ujub (takjub pada diri sndiri), yang lebih besar dosanya ketimbang bermaksiat.
Karena itu Syech Ibnu Athaillah dalam Kitab Al Hikam nya berpesan:
Tidak ada amal yang lebih bisa diharapkan diterima selain amal yang tidak engkau sadari (perhitungkan) dan kamu pandang tidak berarti.
Ibadah yang diterima oleh Tuhan adalah amal yg dilakukan hamba dengan didasarkan pada keyakinan amal itu terjadi karena taufik dan hidayah dari Allah. Selain itu Kemudian amal itu dilakukan dengan diikuti dengan sikap istiqamah dan tidak berbangga diri atas amal-amal tersebut
Sebab, jika seorang hamba merasa bangga dengan amalnya, maka amalan itu menjadi tidak bernilai dalam pandangan Allah.