Keseharian

Jalan Yang Tidak Disangka – sangka

Malam ini, kala manusia beristirahat dalam damai di bawah dekapan mimpi. Diriku membaringkan nalar sadar di lantai nurani memandang jauh kepada langit yang  sibuk berputar dalam orbit semesta waktu, yang berubah – ubah gelisah berganti musim, seiring berganti  satuan rindu.

Dalam pandanganku aku menemukan diriku sedang diseret dunia begitu jauh hingga sekarang. dan apa yang kulihat bagaimana pikiranku tidak berdaya memanjat tembok – tembok pemisah. Tembok tebal penutup diriku dari diriku sendiri. Telingaku terlalu sering mendengarkan suara – suara bising, sehingga tidak terlatih untuk mendengarkan suara sejati, sehingga bagaiamana mungkin telinga ini bisa menjebol dinding – dinding itu.

Tiba – tiba bayangan Sang Guru muncul dihadapanku, bayangan yang nampak nyata.  Tanda – tanda kedalaman ilmunya tampak jelas melalui garis – garis wajahnya. Sang Guru mengucap salam, dan aku menjawabnya. Sang Guru nampak memberikan isyarat padaku, untuk mulai duduk di tepian sungai ilmunya, kemudian beliau berkata:

Muridku, Manusia haruslah terus belajar dan belajar, belajar untuk hidup menemukan kebenaran. Kebenaran tentang siapa hakikat hidupmu, oleh karena itu, kita tidak bisa berhenti berdiam diri di suatu tempat, karena hidup itu hijrah, hidup adalah pergerakan. Bahwa hanya air kotor yang menggenang, sedangkan air yang jernih harus terus mengalir dari awalnya sehingga menemui tujuan sejatinya, Sang Samudera.

“Muridku, aku tahu apa yang menjadi pengganjal hatimu, namun tidak perlu kau cemaskan semua itu. Begitu kecilnya dunia, sehingga ia tidak akan pernah membuatmu bersedih.”

“Lihatlah rumput liar itu”. Sang Guru  berkata sambil menunjuk rumput yang tumbuh liar di tanah – tanah berbatu di sampingnya.

“Kau belajarlah dari bagaimana ketabahan rumput liar yang tumbuh di tanah keras berbatu ini, ia selalu saja luput dan diremehkan orang. Hijaunya dan indahnya tidak akan sehijau dan seindah rumput taman yang dipelihara, dirawat, disirami, dan dipupuk tukang kebun. Tapi jangan tanyakan, siapa yang paling ‘tahan banting’. Engkau tak akan pernah melihat orang menanam dan memupuk si rumput liar, bahkan seringkali manusia menginjak – injak, mencabuti dan memotongnya. Tapi pernahkah kau lihat bahwa si rumput liar berhenti tumbuh? Dia tumbuh dimana saja, karena dia tidak ditanam oleh si tukang atau penjaga kebun. Tuhanlah yang langsung menanam dan memeliharanya.”

“Dan begitulah hidup, jangan kau gantungkan dirimu kepada pemeliharaan atau perlakuan manusia padamu. Karena bukan mereka yang menentukan rizkimu. Rizkimu ada di TanganNya. Karena itu sekali – kali janganlah dirimu berputus asa dari rahmatNya”

“Maka perbanyaklah bersyukur, jika sekarang ini kau menjadi rumput liar. Tidak hijau, tidak ada yang memperhatikan, diremehkan, diinjak – injak, dipangkas. Bersyukurlah, karena semakin manusia mencabuti eksistensimu, maka semakin Tuhan menumbuhkanmu. Sehingga semakin dipangkas, semakin engkau bisa tumbuh lebih tinggi dari pemangkas- pemangkasmu.”

“Min haitsu La Yahtasib, ini yang Tuhan jaminkan. Janganlah berkecil hati, sekali – kali jangan sempatkan hidup untuk berkecil hati, meskipun sekarang terinjak, dan tercabut, janganlah berkecil hati. Berbesar hatilah karena Tuhan memelihara makhlukNya, dan memberinya jalan keluar padanya, dari jalan yang tidak pernah disangka – sangka”

Setelah mengucapkan ini, kemudian bayangan Sang Guru lenyap. Tepat setelah tuntas dahaga tanyaku terjawab daru sumber kebijaksanaannya. Aku menghela nafas sejenak, bersyukur, berterimakasih dalam – dalam. Tiada segala sesuatu terjadi melainkan semua atas perkenanNya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.