Keseharian, Perenungan

Perjalanan Hati

A_Dark_Starry_Night_Wallpaper_by_s3vendaysSeorang lelaki di fajar kehidupan  duduk di atas balkon rumahnya yang sepi.  Ia melihat langit ditaburi bintang – bintang gemerlapan diselimuti gelap langit malam. Rona wajahnya merefleksikan kisah – kisah hidupnya yang kemudian menjadi warna – warna dalam pikirannya

Kemudian untuk sejenak, ia melihat gambar seorang gadis yang selalu tersimpan rapi di tas kerjanya. Gambar gadis itu untuk sejenak, membawa anak muda  ke dalam suatu perasaan yang mungkin hanya bisa dijelaskan oleh detak – detak jantung dan aliran – aliran nadi darahnya. 

Kemudian, anak itu menghela nafas panjangnya, menyimpan gambar tersebut kembali ke tempatnya lalu mengambil komputernya dan menuliskan perasaannya :

“Hidup adalah perjalanan dari satu patah hati menuju patah hati yang lain sampai kemudian engkau sampai pada tujuanmu. Namun demikian, jangan pernah surutkan hati dan berputus asa daripada terus mencari. Karena setiap patah hati hanyalah pertanda bahwa semakin dekat dirimu  ke dalam Cinta sejati”

“Tahukah kenapa Tuhan ciptakan rasa kecewa dan sakit hati? Sudah lama aku menanyakan ini pada diriku sendiri. Hingga kemudian sampai aku pada sebuah jawaban”

“Tuhan menciptakan apa yang kamu sebut kecewa dan sakit hati itu agar ia dapat mencuci bersih hatimu. Untuk kemudian hal – hal yang lebih baik dapat hadir menggantikannya”

“Ya, rasa sakit hati hanyalah pertanda dari Tuhan bahwa  Ia sedang mempersiapkan jalan bagi datangnya kebahagiaanmu”

“Ia  begitu cepat membersihkan dan mengusir semua rasa-rasa lain, dari ruang – ruang hatimu. Sehingga kemudian kebahagiaan sejati dapat masuk mengisinya”

“Ia  meranggaskan semua daun-daun yang layu dari ranting-ranting hatimu, untuk kemudian daun- daun segar dapat tumbuh”

“Ia cabut akar – akar kesenangan yang telah lapuk dan busuk. sehingga kemudian kebahagiaan baru dapat tumbuh tanpa ada kepalsuan yang tersembunyi”

Anak muda itu bangun, dan berjalan pelan melewati ruangan. Dia kembali ke balkon lalu melihat bulan yang muncul di atas cakrawala, kemudian kembali pada mejanya dan menulis

“Begitu indah hidup, sehingga Tuhan menciptakan semuanya begitu teratur dan tertata rapi. Namun Tuhan dengan Bijaksanaannya juga menciptakan Ketidakteraturan yang juga indah. Itulah yang kemudian kita sebut dengan ’perasaan wanita’.”

Tagged , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.