Pagi hingga sore hari orang sibuk menghabiskan keringat, darah emosi, ke kantor, bermacet – macet. Mereka lakukan ini untuk siapa? Apakah yang dicari?
Apa lagi jika bukan uang
Demikian beberapa jawaban, dari beberapa orang, ketika saya tanyakan pertanyaan ini kepada mereka.
Bukankah kita adalah khalifah di muka bumi, yang diciptakan Allah dengan sebaik – baiknya bentuk? Mengapa harus mencari makhluk lain yang bernama uang, yang derajadnya lebih rendah daripada kita? Uang, seharusnya hanya menjadi efek moral dari sebuah pekerjaan yang kita lakukan, bukan menjadi tujuan yang harus dikejar.
Misalkan kita berjualan makanan di warung, yang harusnya dipikirkan oleh si penjual warung adalah bagaimana menyediakan makanan yang baik, yang bersih, melayani pelanggan dengan ramah. Jika hal ini dilakukan, meskipun kita tidak memikirkan laba, tentu laba akan datang dengan sendirinya.
Asalkan kita amanah, bisa dipercaya, bisa membuat segala sesuatu berjalan stabil, maka kita tidak perlu sibuk mencari uang, karena uang – lah yang akan sibuk mencari kita
Jadi saya rasa, kita tidak perlu menjadi makhluk yang merendahkan diri dengan mengejar-ngejar makhluk lain yang namanya uang, karena kita lebih tinggi dari uang
Kita manusia, adalah sebaik –baik ciptaan Allah – Laqad khalaqnal insaana fii ahsani takwim – derajadnya adalah dicari oleh dunia, kita tidak punya derajad yang rendah untuk mencari dunia.
Malah justru jika kita tidak terlalu berkonsentrasi mencari uang, maka potensi uang yang datang kepada kita akan jauh lebih banyak. Sebagaimana yang diajarkan Rasulullah ketika berdagang, bukanlah semata laba yang dicari seperti prinsip ekonomi kapitalis “mendapatkan untung sebesar – besarnya dengan modal sekecil – kecilnya”.
Rasulullah mengajarkan cara berdagang yang jujur, dan tidak merugikan konsumen, jika suatu barang memiliki cacat, dia sebutkan kecacatannya, begitupun ketika konsumen menawar barangnya dengan harga yang terlalu mahal, Rasulullah mengingatkan bahwa konsumen bisa rugi jika membeli dengan harga terlalu tinggi, begitupun sebaliknya, jika harga yang ditawarkan terlalu rendah. Dengan bisnis model seperti ini, Rasulullah justru menjadi pengusaha yang sukses, mematahkan banyak teori tentang kapitalisme.