Dapatkah Takdir bisa diubah?
Pertanyaan menggelitik yang bisa memunculkan banyak jawaban. Tapi jika pertanyaan itu ditujukan kepada saya, maka jawaban singkat saya adalah tidak. Hakikatnya takdir itu tidak pernah berubah. Yang berubah-ubah hanyalah manusia dan seluruh makhluk di alam semesta
Seandainya Takdir bisa diubah, berarti sifat dan ketetapan Allah, bergantung pada makhlukNya. Jika hal tersebut terjadi, bukanlah Tuhan namanya. Karena Allah itu berdiri sendiri, tidak bergantung pada Makhluk, namun makhluklah yang bergantung padaNya. Karena itu Syech Ibnu Athaillah berkata dalam Syarah Al Hikam,
Semangatmu yang menggebu – gebu tidak akan mampu menjebol batas – batas takdir
AlHikam
Jika ada yang berkata "Doa dan usaha bisa mengubah takdir" . Secara pandangan syariat adalah benar. Namun secara hakikatnya, tidaklah demikian
Semisal, kita berdoa dan berusaha, kemudian nasib kita berubah, apakah itu berarti takdir Tuhan berubah karena doa dan usaha kerasmu? Tidak. Takdir tidak pernah berubah. Karena usaha dan doa itu sendiri sebenarnya adalah bagian dari lingkaran takdir itu sendiri
Maksudnya, jika Tuhan menghendaki sesuatu keadaan tertentu pada hambaNya, maka si hamba juga ditakdirkan berupaya menuju sesuatu tersebut
Lalu bagaimana dengan ayat yang berbunyi
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri
Itu adalah potongan QS Ar Raad. Ayat 11. Lengkapya,
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍلٍ
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
Allah berfirman,
“Allahu la yughoiru ma bikaumin hatta yughoiru ma bianfusihim".
Allah tidak mengubah nasib kaum sehingga mereka mengubah nasib pada diri mereka sendiri.
Namun sebenarnya ayat ini belum usai, .
Waidarodallahu bikoumin sukaan fala maradallahu
Dan jika Allah menghendaki keburukan nasib terhadap suatu kaum, tak ada yang dapat menolaknya
Ditambah lagi di akhir berbunyi :
"Waman lahum min dunih, min walin"
Dan sekali-kali tak ada pelindung bagi nasib mereka selain Dia (Allah).
Selanjutnya dikatakan
Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki Nya di antara hamba-hamba Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
QS. Yunus: 107.
Kemudian timbul pertanyaan,
Jadi jika memang takdir telah di tetapkan dan tidak akan berubah lalu untuk apa kita berusaha?
Karena usaha, adalah bagian dari kewajiban kita sebagai hamba yang menerima perintah sebagai khalifah di muka bumi. Kewajiban manusia hanyalah mengusahakan perubahan, sedangkan "perubahan" itu sendiri sudah masuk ke dalam ranah wewenangNya.
Itulah mengapa dalam Al Fatihah, Allah hanya menawarkan opsi, ihdinassirotol mustaqim. Opsi jalan yang benar. Allah tidak menawarkan sukses atau sampai tujuan, namun hanya "jalan yang benar". Karena sampai tidak sampai tujuan bukanlah wewenang kita. Tugas kita hanyalah berjalan di atas jalan yang benar, dengan niat benar, dan cara yang benar. Selebihnya, serahkan semuanya padaNya.
Bercita – citalah, berusahalah, berdoalah, semua itu adalah manusiawi. Bukan untuk merubah takdir, namun untuk menetapi kewajiban dan tugas kita sebagai manusia. Keinginan kita adalah pantulan Iradah dari Allah, dan Allah pulalah yang mampu mewujudkannya.