Jumlah bintang di langit tak akan cukup menutup jumlah rinduku. Tebalnya kabut mahameru tak akan mampu menandingi tebalnya rasaku. Banyaknya debu di padang sahara tak akan mampu menganti banyaknya ingatanku padamu. Dengarlah apa yang dikatakan hujan pada bumi, dengarlah apa yang dikatakan awan pada langit, dengarlah apa yang dikatakan jantungku padamu.
Jika sekarang kau tak mampu mendengar, itu sekali – kali bukan karena tiada suara, namun karena terlalu banyak gemuruh mengisi telinga hati. terlalu banyak debu mengisi mata, terlalu banyak ambisi menutup diri. Bersihkan diri, menceburlah ke dalam sungai realitas, lumuri hati dengan manisnya madu kerinduan. Setelah itu, kamu akan mendengar seluruh pesan yang dibawa alam untukmu, sebagaimana pesan yang dibawa kumbang terhadap bunga, seperti pesan yang dibawa ngengat terhadap cahaya, ibarat pesan yang dibawa semut terhadap gula.
Kemana lagi gelombang harus menuju jika tidak ke pantaimu, kemana lagi kapal harus berlabuh jika tidak ke dermagamu. Seperti awan mencintai langit, samudra mencintai pasir, musim dingin mencintai salju, salju mencintai angin. Seperti itu pula rasaku padamu.
Terima kasih sekali atas tulisan ini. Sangat menyentuh dan mengharukan. Sebuah tulisan/esai ternyata bia juga memanggil empati paling dalam pada diri seorang manusia. Sebuah tulisan dapat menguak sebuah sisi positif yang hampir dilupakan… Salam.
_______________
Tedy : Terimakasih 🙂
anda bisa menangkap ruh dari tulisan ini juga ternyata