Perenungan, Sosial Politik

Nation Character Building – Bagian 2

Marilah kita tengok, bahwa sebenarnya bangsa ini memiliki falasafah yang sangat bagus sekali, Sila Pertama dalam Pancasila berbunyi Ketuhanan yang Maha Esa. Falsafah tersebut menjiwai semuanya. Kalau diterjemahkan dalam prespektif Islam artinya  Lailahaillah, kalimat ini harusnya tidak hanya menjadi ucapan saja namun juga harus menjelma menjadi pergerakan ataupun pemikiran. Jadi gerakan apapun kalau tidak didahului dengan Ketuhanan yang Maha Esa (dalam pengertian Lailahaillah) maka akan sia-sia.

Sebagaimana pada bagian 1 tulisan ini, kita sebagai bangsa, dijajah oleh materi, yang artinya  kita tidak hanya menjadi hamba Tuhan, tapi juga menjadi hamba materi. Apa konsekuensinya? Konsekuensinya jika kita tidak mau hanya dijajah oleh Tuhan, maka semuanya akan menjadi Tuhan. Hasilnya sekarang “kepentingan” menjadi Tuhan, karena tiap orang memiliki kepentingannya sendiri-sendiri, akhirnya  Tuhannya ada banyak.

Ketuhanan Yang Maha Esa adalah nilai universal, Hindu, Budha, Islam semuanya mengenal ketuhanan.  Jika dilihat dari Islam bahwa yang berkuasa itu hanya Allah.  Namun yang menjadi masalah ketika hal tersebut tidak diimplementasikan dalam kehidupan sehari – hari. Sehingga yang terjadi adalah terlalu berlebihan dalam memandang dunia.

Pepatah orang  jawa yang  mengatakan bahwa “dunia itu cuma mampir ngumbe” (dunia hanya sekedar mampir minum) sekarang  tidak berlaku lagi, yang berlaku adalah “dunia adalah sebagai tempat tinggal” bukan sekedar mampir. Nah, ketika dunia yang menjadi tujuan maka yang terjadi adalah malapetaka. Karena sumber dari segala malapetaka adalah ketika dunia dan materi sudah dianggap sebagai Tuhan.

Malapetaka seperti apa? Lihat saja sekarang ini, meskipun bangsa kita telah merdeka semenjak 1945, tetap saja kita tidak berkuasa.  Banyak sekali kekayaan bangsa yang dikuasi oleh asing. Padahal sesunggunya kita adalah hamba Tuhan yang diperintah untuk menjadi penguasa, bukan untuk jadi budak. Kita diciptakan oleh Tuhan kita untuk menjadi khalifah. Tetapi apa yang terjadi di Indonesia? Kepada Tuhan kita tidak memperhambakan diri, namun justru kita memperhambakan diri pada selain Allah.

Jika kita tidak memperhambakan pada Allah, dan memperhambakan pada siapa saja, maka yang terjadi kita tidak akan punya nilai apa-apa. Akhirnya kita akan jadi budak. Karena yang namanya budak itu tidak mempunyai apa-apa. Jadi jika permasalahannya bangsa kita tidak memiliki apa-apa, hal itu dikarenakan kita adalah bangsa budak. Cara satu-satunya agar memiliki sesuatu, ya harus jadi penguasa. Dan agar menjadi penguasa harusnya tidak menyembah yang lain, yang disembah hanya  Tuhan saja.

Karena itulah harus ada yang namanya pembangunan karakter bangsa (Nation Character Building) merubah pemikiran dari Tuhan banyak (polytheisme) menjadi Tuhan satu (monoteisme). Dari tuhan-tuhan berupa materialisme, rasialisme, dan isme-isme yang lain dilebur dan diganti dengan hanya Allah yang kita Tuhankan.

Tagged , , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.