Keseharian, Perenungan

Tradisi Berngawurlintas

Tulisan ini saya buat jauh hari sebelum saya berangkat Kerja Praktek dan dipublikasikan dengan cara penjadwalan otomatis. Kenapa demikian? Saya hanya khawatir jikalau nanti tidak sempat untuk membuka internet, ataupun jika sempat mungkin saya tidak sempat membuat tulisan dikarenakan kesibukan membuat Laporan Kerja Praktek. Doakan saja, semoga yang saya lakukan ini mendapatkan kelancaran dan ridho dari-Nya. 🙂

Tidak terasa tiga tahun sudah saya berkuliah di jogja. Jogja? Apa yang menarik dari Jogja? Semua orang yang pernah ke jogja pasti sudah tahu – tetapi apa yang paling menjengkelkan dari Jogja? Jika saya diperbolehkan menjawab, saya akan menjawab pengendara kendaraan bermotornya. Yah terlebih pengendara sepeda motor, sungguh menyebalkan sekali. Tidak semuanya memang, tapi rata – rata yang saya temui memang menyebalkan.

Jalan raya adalah milik umum namun tidak bagi pengendara kendaraan bermotor tersebut, jalan raya adalah milik dirinya sendiri. Bagaimana tidak, seringkali ketika saya menyeberang jalan , saya harus menunggu cukup lama hingga jalan benar – benar lengang, mereka tidak akan memberikan kesempatan sedikitpun bagi mereka yang menyebrang jalan. Ada atau tidak ada penyebrang jalan, kecepatan kendaraan tetaplah konstan.

Hah, saya ngga tau apa pendidikan atau asal daerah pengendara ini. Saya hanya bisa maklum karena sepertinya mereka tidak diajari sikap saling menghormati dan meghargai, mungkin saja mereka lahir di hutan rimba, sehingga yang diajarkan adalah siapa yang kuat dialah yang menang, dan yang lemah haruslah tersingkir. Yea, mungkin jalan raya tak ubahnya belantara rimba dengan hukum ngawurnya yang berlaku. Siapa ngawur dia yang menang

Kita tahu, bahwa cara berlalu lintas menunjukkan tingkat peradaban suatu daerah- bahkan suatu negara. Apakah mungkin mereka diajarkan di sekolah bahwa memberikan kesempatan bagi pejalan kaki untuk menyebrang jalan adalah tindakan bodoh yang membuang – buang waktu.  Sungguh menyedihkan

Alasannya mungkin klasik, “habis bagaimana lagi, orang lain juga gitu kok” atau, “Ngapain tertib aturan kalo kalah melulu, mending jadi nakal sekalian”.  Yah. Jika begitu jawabannya maka selamat datang di Indonesia, negeri yang semakin egosentrik. Jikalau orang lain yang dirugikan, “lah itu salah mereka kenapa kok mau dirugikan”. Giliran kita yang dirugikan, maka kitapun bicara tentang hak, mereka lupa bahwa mereka pernah jadi pelaku. Lalu ketika disalahkan maka keadaanlah yang dikambinghitamkan, “ yah abis, sistemnya udah begitu, kitakan cuman ngikut yang sudah ada aja. Ah biarin aja, Presiden aja ngga bisa perbaiki keadaan, apalagi kita”

Mereka hanya bisa mengkritisi polisi lalu lintas yang sering main tilang, namun kita lupa bahwa kadang kita sendiri juga harus merubah kebiasaan ngawur kita berlalu lintas. Kita hanya menginginkan bahwa semua orang harus taat dan tertib hukum, kecuali hanya dirinya sendiri yang boleh melanggar aturan. Dan celakanya, hampir semua orang berpikiran seperti itu.

Marilah perbaiki cara berlalu lintas kita, dan jadikan kita bangsa beradab.

___________________

gambar diambil dari: http://thepirata.com/traffic-light-tree/

Tagged , ,

2 thoughts on “Tradisi Berngawurlintas

  1. Salut untuk artikel kali ini, kalau semua orang berfikir bahwa dirinya sendiri yang perlu dikoreksi lebih dahulu, maka tidak mudah untuk mengoreksi orang lain. Sulit memang, ya paling tidak artikel mas teddy bisa untuk pencerahan. Selamat membuat laporan, semoga cepat selesai, dan selalu sukses.

    _________
    Tedy : Terimakasih pak…
    bgitupula bapak, semoga selalu sukses juga 🙂

  2. teknologi Schedule ya? saya juga lagi pake tuh :p

    memakan ato dimakan ya? lama2 indonesia cocok buat negeri pada kanibal

    _______________
    Tedy :yah..emang enak pake penjadwalan kalo lagi sibuk
    ya semoga dugaan kita salam mbak… 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.