Alarm di Handphone tiba – tiba berbunyi mengejutkan, sehingga sayapun terjaga dari tidur. Kulihat jam di handphone menunjukkan pukul 1 dini hari. Hari ini adalah hari pertama UTS, aihh…mata ujian pertama adalah fisika dasar II, untunglah mata ujian yang satu ini diperbolehkan membawa catatan meskipun hanya satu lembar HVS ukuran A4 yang ditulis dengan tinta biru (halah seperti OSPEK saja 😆 )
Ditemani my best friend “Mr. Radio” saya pun mulai membuat catatan tersebut, tentunya dengan menggunakan tinta biru pada kertas HVS ukuran A4
. Saat sedang membuat catatan tersebut, tiba -tiba saya tertarik mendengar suara cantik sang penyiar wanita di radio station yang sedang saya dengar, sayapun meluangkan waktu sejenak mengirim SMS untuk sekedar request lagu dan sedikit menggoda si penyiar tersebut ( Penyakit lama kumat lagi
) .
Untuk satu mata kuliah ini saja, saya harus mempersiapkannya selama 3 hari. Kenapa?? Ya karena ini mata kuliah pertama yang diujikan, jadi meskipun diperbolehkan membawa catatan ( walau hanya satu lembar), mata ujian ini harus dipersiapkan sebaik mungkin. Awal yang baik akan menghasilkan hasil akhir yang baik pula, begitulah kata pepatah (Pepatah dari mana, saya sendiri ga ngerti 😆 ). Tapi semoga jangan sampai karena terlalu sibuk dengan mata ujian yang satu ini, mata ujian yang lain jadi terbengkalai.
Waktu Ujian Tiba
Waktu yang mendebarkanpun tiba. Kalkulator, kartu ujian, alat tulis, serta yang paling utama catatan kertas HVS ukuran A4 yang ditulis dengan tinta birupun saya siapkan (Halah…). Begitu pengawas ujian memperbolehkan masuk Auditorium, saya langsung masuk dan mengambil kursi yang telah disediakan sesuai nomer tempat duduk yang telah diberikan sebelumnya.
Bak Politisi yang sedang ikut pilkada, sayapun langsung mencuri start dengan membuka lebih cepat soal ujian yang telah disediakan. Ada 6 soal ujian yang ternyata soal – soalnya mirip dengan tugas – tugas yang diberikan dosen. Senang sekaligus sedikit kecewa melihatnya karena apa yang saya bayangkan ternyata tidak sesuai dengan yang dihadapi. Tetapi begitulah hidup, terkadang kita terlalu mendramatisir suatu masalah hingga menjadi seolah – olah besar, padahal kenyataannya tidaklah demikian. Mungkin ini terlebih karena “yang Pertama yang selalu saja mendebarkan”