Keramaian ini masih membuatku sepi. Pandangan ini masih membuat hatiku luka. Disini hanya ada bayang – bayangku yang menemaniku. Tiada suara ataupun cahaya.
Engkau telah membius sel – sel di otakku, meracuni setiap partikel dalam molekul jiwaku, dan menjadi embun di setiap pagiku. Namun sekarang tiada lagi yang bisa kuperbuat. Mereka merampasmu dari padanganku, merenggut udara dari kerongkonganku dan menawarkan empedu yang dengan perlahan harus kuminum.
Aku hanya sekedar bintang – bintang malam yang terserak di puing -puing imperium. Berkilau memanggil – manggil sang kekasih malam yang hilang. Berenang di jagad raya malam sembari tersapu dan terinjak – injak peradaban.
Setiap tinta yang kutuliskan hanyalah buih di di samudera pasifik yang luas. Merasa kerdil diantaranya, dan tak akan pernah bisa menjelaskan keluh kesahku yang tertahan.