Keseharian, Perenungan, Sosial Politik

Bangsa Indonesia Yang Luar Biasa

bendera-indonesiaBenar – benar luar biasa negeri kita Indonesia ini, Negara dengan ribuan pulau , ribuan budaya, ribuan bahasa yang tersebar di negeri ini. Begitu kayanya negeri ini, hingga tidak akan habis kekayaannya meskipun dikeruk  belanda  selama 350 tahun hingga  menjadikan negeri kincir angin itu menjadi sebuah negara terkaya waktu itu.

Orang-orang seluruh dunia tidak akan benar – benar paham siapa sesungguhnya Bangsa Indonesia itu. Mereka akan kaget setengah mati bahwa teryata bangsa Indonesia adalah bangsa yang tidak bisa dikalahkan. Mereka tidak pernah tahu bahwa bangsa Indonesia tidak hanya merupakan bangsa bibit unggul namun lebih dari itu, – dari konteks evolusi pemikiran, kebudayaan dan peradaban- bangsa kita adalah bangsa yang berada pada garda terdepan, avant garde nation, yang derap sejarahnya selalu saja berada beberapa langkah di depan bangsa-bangsa lain yang di muka bumi.

Sebagai contoh, negeri inipun memiliki keunggulan luar biasa dalam menyerap berbagai budaya yang ada di dunia. Kita bisa melihat segalam macam mode pakaian dan budaya di dunia ada di indonesia, bangsa baratpun tidak akan mampu menyerap budaya indonesia dengan menggunakan kebaya di jalan – jalan misalnya. Namun di indonesia, pakaian dari negeri manapun dipakai disini. Musik apapun ada disini.

Orang barat hanya bisa menyanyikan lagu – lagu barat, orang negro juga hanya bisa menyanyikan lagu – lagu negro, orang cina hanya bisa menyanyikan lagu – lagu cina. Orang Arab tidak akan bisa membawakan lagu Negro dan begitu sebaliknya. Tetapi, orang Indonesia mampu melantunkan lagu-lagu Arab, Negro, Barat, Cina dan lain-lain. Blues  ,  Rock. Apalagi lagu dangdut.

Orang miskin  yang ada di Indonesiapun  jika ditilik masih mampu untuk berbuat sombong dan dengan penuh percaya diri mereka akan mengatakan

“Lho, sudah miskin kok ndak boleh sombong. Rugi dua kali dong!”

Orang yang tidak berpunya saja masih mampu untuk nraktir. Di negara manalagi hal tersebut terjadi jika tidak di indonesia?

Kita bisa melihat pula ratusan rongsokan motor, sampah elektronik, dan komputer  yang diserahkan kepada orang Indonesia akan kembali berfungsi dan menjadi sesuatu yang baru, dalam waktu tidak kurang dari satu minggu.

Dari sudut kewibawaan, bangsa mana di seluruh dunia yang mampu memiliki wibawa sebagaimana wibawa yang dimiliki bangsa indonesia?. Meskipun itu seorang  profesor di London atau di manapun, mereka  hanya memiliki kepintaran namun tidak mempunyai wibawa.  Mereka hanya Pandai secara akademis, namun tidak  berani.

Lain halnya dengan Orang Indonesia:  meskipun tidak mempunyai pekerjaaan dan tidak pemah sekolah tapi galaknya setengah mati. Meskipun tidak memiliki uang  namun berani untuk berkali – kali menikah. Namun sayang, justru karena wibawa ini kita menjadi malas untuk melakukan apa saja. Maka munculah istilah Bonek. Bonek tidak hanya ada di Surabaya melainkan di seluruh Indonesia. Semua orang Indonesia ber-bondo nekat. Apakah bukan bonek jika orang berani mencalonkan menjadi anggota DPRD, DPR atau bahkan Walikota, Gubernur, Presiden padahal  dia tidak  memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah.

Kita harus mempelajari mengapa fenomena bonek bisa timbul di Indonesia. Apa Keistimewaannya dan apa keburukannya . Sebagai sebuah  potensi, bonek tidak bisa dilawan dan karena itulah Surabaya digelari sebagai kota pahlawan.  Mana ada yang berani perang dengan berbekal bambu runcing, jika bukan bonek. Kalau kita melihat secara positif, sesungguhnya bonek adalah bahasa Jawa dari kata tawakkal. Dan kita tahu bahwa tawakkal, beserta jihad dan syahid, adalah tiga senjata yang sangat ditakuti di manapun di dunia ini.

tni1Tidak hanya Rakyat Sipil yang memiliki konsep tawakal dan berserah diri. Angkatan Perang kitapun juga memiliki konsep yang tidak jauh hebat.   Mereka memiliki konsep rendah hati dan tawakal yang begitu membumi. Bisa dibayangkan untuk melindungi negara yang wilayahnya terbentang sepanjang 3.977 mil di antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik dengan Luas daratan  1.922.570 km² dan perairannya 3.257.483 km, Angkatan Perang kita hanyalah mendapatkan anggaran 3% dari total APBN. Angkatan Perang kita yakin dengan bermodalkan konsep tawakal maka bangsa kita mampu mengalahkan musuh . Ini terbukti sejak 56 tahun yang lalu bahwa bangsa indonesia mampu mengusir penjajah dari negeri ini dengan hanya bersenjatakan bambu runcing dan parang.

Ini haruslah dimengerti, mengapa bangsa ini memiliki jumlah unit alutsista yang sedikit dibandingkan wilayah yang harus dilindungi  karena bangsa Indonesa tidak akan pernah memilih suatu sikap sosial yang gemedhe ataupun adigang adigung adiguna. Kita tak akan pernah mau pamer keunggulan atau gagah – gagahankepada bangsa lain, dan disitulah letak keunggulan budaya kita. Kita tidak akan mencari kepuasan hidup dengan melalui sikap ngendas-ngendasi bangsa lain, seperti yang Amerika Serikat dan Sekutunya lakukan kepada negara – negara di Timur tengah. Karena itulah Departemen yang membidanginya dinamakan Departemen Pertahanan dan bukan Departmen Penyerangan   Kita adalah bangsa yang memiliki kemuliaan batin karena sanggup memprakekkan budaya andap asor, budaya rendah hati.

Sementara Orang – orang di negeri lain begitu serius dan tegang dalam menjalani hidup ini,. Orang Indonesia sangat mudah tersenyum, ceria, tidak tegang, dan punya banyak cara untuk menertawakan keadaan, dan hal tersebut di satu sisi sangat menyehatkan jiwa mereka. Karena itulah bangsa Indonesia begitu tabah meskipun banyak musibah yang datang silih berganti.

Semua sifat dan potensi bangsa Indonesia sangatlah positif dalam menyongsong masa depan negeri ini. Potensi bangsa Indonesia sangatlah besar untuk bisa tampil dalam panggung kepemimpinan dunia, asal saja kita mau dan serius dan mau mencari formulasi yang tepat.

Sekali lagi kita simpulkan bahwa orang Indonesia memiliki budaya yang kuat, iman yang kuat, dan tawakkal yang tidak kalah kuat. Namun sayang kurang serius dalam berilmu, namun ini bukan berarti bodoh. Serius dalam berilmu bisa diartikan keinginan untuk mempelajari bahwa sesungguhnya bangsa Indonesia adalah bangsa yang hebat dan begitu hebatnya  hingga – hingga ketika menjadi malaikat pun pintar dan ketika menjadi jadi setan pun menjadi setan yang jagoan.Tak ayal Indonesia ini sebuah negeri yang kontraversial. Di lain pihak akan tampak sebuah negeri yang miskin dan dilanda krisis, Namun sungguh kita tidak bisa menemukan tingkat kemewahan hidup melebihi di dunia yang melebihi orang – orang Indonesia.

Serius dalam berilmu bisa juga berarti menyadari bahwa hanya bangsa yang besar yang  mampu menerima ujian beruntun dan mampu merubah berbagai kejadian yang terjadi untuk menjadi kekuatan dalam rangka bersiap menyambut takdirnya  Sebagai bangsa pemimpin jagad raya

Tagged , , , , ,

4 thoughts on “Bangsa Indonesia Yang Luar Biasa”

  1. Ini diambil dari forum alumni SMA N 1 Solo…..kasmadji.org….postingan Nol’z

    Asal Usul Nama Indonesia

    PADA zaman purba, kepulauan tanah air kita disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan kita dinamai Nan-hai(Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang) nama yang diturunkan dari kata Sansekerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Valmiki yang termasyhur itu menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara. Bangsa Arab menyebut tanah air kita Jaza’ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan adalah benzoe, berasal dari bahasa Arab luban jawi (kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatra. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil “Jawa” oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. “Samathrah, Sholibis, Sundah, kulluh Jawi(Sumatra, Sulawesi, Sunda, semuanya Jawa)” kata seorang pedagang di Pasar Seng, Mekah.

    Lalu tibalah zaman kedatangan orang Eropa ke Asia. Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang itu beranggapan bahwa
    Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India, dan Cina. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Cina semuanya
    adalah “Hindia”. Semenanjung Asia Selatan mereka sebut “Hindia Muka” dan daratan Asia Tenggara dinamai “Hindia Belakang”. Sedangkan tanah air kita memperoleh nama “Kepulauan Hindia” (Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien) atau “Hindia Timur” (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang juga dipakai adalah “Kepulauan Melayu” (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l’Archipel Malais).

    Ketika tanah air kita terjajah oleh bangsa Belanda, nama resmi yang digunakan adalah Nederlandsch- Indie (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur). Eduard Douwes Dekker (1820-1887),
    yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu Insulinde, yang artinya juga “Kepulauan Hindia” (bahasa Latin insula berarti pulau). Tetapi rupanya nama Insulinde ini ku rang populer. Bagi orang Bandung,Insulinde mungkin cuma dikenal sebagai nama toko buku yang pernah ada di Jalan Otista.

    Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang kita kenal sebagai Dr. Setiabudi (beliau adalah cucu dari adik Multatuli), memopulerkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata “India”. Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.

    Namun perlu dicatat bahwa pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian, nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta
    artinya luar, seberang) sebagai lawan dari Jawadwipa (Pulau Jawa). Kita tentu pernah mendengar Sumpah Palapa dari Gajah Mada, “Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa” (Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat). Oleh Dr. Setiabudi kata nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi jahiliyah(kerendaha n peradaban) itu diberi pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu asli antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu “nusa di antara dua benua dan dua samudra”, sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara yang modern. Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda.

    Sampai hari ini istilah nusantara tetap kita pakai untuk menyebutkan wilayah tanah air kita dari Sabang sampai Merauke. Tetapi nama resmi bangsa dan negara kita adalah Indonesia. Kini akan kita telusuri dari mana gerangan nama yang sukar bagi lidah Melayu ini muncul.

    Nama Indonesia Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), orang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas
    Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA. Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74,Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis: …. the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians.

    Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl, bukankah bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.

    Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah “Indian Archipelago” terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia. Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan: Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago. Ketika mengusulkan nama ” Indonesia “agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akanmenjadi nama bangsa dan negara yang jumlah penduduknya peringkat keempat terbesar di muka bumi!

    Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama ” Indonesia ” dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas
    Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air kita tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah ” Indonesia ” di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah ” Indonesia ” itu
    ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch- Indie tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah “Indonesia” itu daritulisan- tulisan Logan.

    Putra ibu pertiwi yang mula-mula menggunakanistilah “Indonesia” adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara).Ketika di buang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau.

    Makna politis Pada dasawarsa 1920-an, nama “Indonesia” yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama “Indonesia” akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitassuatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan! Akibatnya pemerintah Belanda mulai curigadan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Loganitu.

    Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.

    Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, “Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut “Hindia Belanda”. Juga tidak “Hindia” saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya.”
    Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula- mula menggunakan nama “Indonesia”. Akhirnya nama “Indonesia” dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini kita sebut Sumpah Pemuda. Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggotaVolksraad (Dewan Rakyat; DPR zaman Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama “Indonesia” diresmikan sebagai pengganti nama “Nederlandsch- Indie”. Tetapi Belanda keras kepala sehingga mosi ini ditolak mentah-mentah.

    Maka kehendak Allah pun berlaku. Dengan jatuhnya tanah air kita ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama “Hindia Belanda” untuk selama-lamanya. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, lahirlah Republik Indonesia.

    Dirgahayu Indonesiaku! ***

    Disarikan dari tulisan IRFAN ANSHORY
    (Penulis, Direktur Pendidikan “Ganesha Operation”)

    ———
    Tedy : terimakasih atas sumbanganya 🙂

  2. Ping-balik: Salam Kenal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.