Keseharian

Puncak Prestasi

downloadTidak terasa, (padahal kerasa banget) empat bulan nglaju Jakarta Tangerang bolak-balik  menjadi seorang komuter. Beberapa tahun yang lalu, saat masih di kantor yang lama, saya juga sering sih, bolak balik jakarta tangerang. Meskipun ngga setiap hari. Dulu, pilihan transportasi yang saya gunakan adalah bus, karena itu moda yang paling dekat dengan kosan saya,  sekitar 200 meter untuk nyegat, sementara stasiun kereta api berjarak setidaknya 10 km.

Tapi kini, empat bulan resmi menjadi seorang anker (anak kereta, sebutan ngetren bagi seorang yang nglaju naik kereta pulang pergi). Berangkat pagi sekitar pukul 7.15 naik sepeda motor ke stasiun Tanah Tinggi, untuk kemudian naik KRL komuterline jurusan Stasiun transit di  Duri, baru dilanjutkan ke jurusan Bogor atau Manggarai lalu turun Stasiun Sudirman, setelah itu disambung dengan  Ojek Online ke Kantor. (ribet banget mirep judul sinetron hehe)

Memang ribet sih ya. Opsi lain bisa naik bus AC34 sekali naik dan langsung sampai, tapi karena jakarta penuh ketidakpastian dan macet dimana – mana, terlebih saat balik dari Jakarta, maka opsi ini ya mau tidak mau harus dicoret dari pilihan saya.

Ya namanya kan moda transportasi umum di indonesia, jakarta khususnya masih merupakan high cost. Sehingga banyak yang masih memilih kendaraan pribadi, meski beresiko nambah macet jalanan, ya habis bagaimana lagi. Konon sekitar 18% pendapatan perbulan seorang penglaju terbakar hanya di jalan saat menggunakan kendaraan umum.

Saya tidak habis pikir bagaimana para pejabat negeri ini bisa dengan tenang tidur melihat situasi yang sedemikian parah di jakarta. Bahkan sampai hati berebutan menjadi gubernur, meski entah ia bisa memecahkan problematika jakarta atau tidak

Ya namanya saja kendaraan ia ibarat alat, alias sarana, wasilah, jika merujuk pada terminologi islam. Asalkan tujuan atau ghoyah nya tercapai. Tidak menjadi masalah naik apa saja, kereta bus, motor, mobil asalkan tujuan ya sampai kantor. Dunia ini kan juga hanyalah kendaraan untuk bisa mencapai kita ke tujuan, yakni Ridha Allah. Jadi apapun yang terjadi ya harus dijadikan kendaraan untuk mendekat kepada Allah.

Lha hubungannya dengan Pilgub apa? Ya,  sama kan. Mulai dari Bupati, Gubernur, hingga presiden kan hanyalah kendaraan, tujuannya ya harusnya untuk membangun negara ini, mengabdi kepada kepentingan masyarakat. Tidak bisa naik bis, ya masih ada kereta, tidak ada kereta, masih ada motor, mobil atau jalan kaki, asalkan sampai pada tujuan. Tidak jadi bupati, gubernur ataupun presiden ya tidak pathek’en. Kan masih banyak jalan untuk membangun negara ini.

Tapi yang sekarang kan ga begitu. orang – orang berebut menjadikan  “kendaraan” sebagai tujuan lalu bangga dengan kendaraan yang digunakan meski dia ngga jalan kemana – mana dengan kendaraannya itu. Kendaraan itulah yang menjadi puncak karir dan prestasi.

Tagged , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.