Akhir – akhir ini, Yogyakarta yang terkenal sebagai kota mahasiswa mendadak berubah menjadi panas. Matahari yang terik menyinari membuat siapa saja akan bercucuran dengan keringat dan memaksanya untuk menggunakan buku atau apa saja yang berada di depannya untuk dijadikan kipas sebagai penahan rasa panas. Hal ini ditambah dengan anjuran pemerintah untuk melakukan penghematan energi membuat kampus kami menerapkan penghematan berupa mematikan pendingin ruangan di beberapa ruang kelas. Maka tak ubahlah ruangan kelas menjadi ruangan spa
yang siap meluluhkan keringat siapa saja yang berada didalamnya 😆
Hal yang sama juga terjadi pada malam hari, dimana udara Jogja yang pada kondisi biasa relatif sejuk, sekarang berubah menjadi gerah. begitu gerahnya hingga saya terpaksa bertelanjang dada saat di dalam kamar. Hingga akhirnya saya berinisiatif membeli sebiah kipas angin yang bisa digantung di bawah plafon kamar. Selain karena bisa menghemat tempat, kipas angin semacam ini juga relatif murah, sehingga saya tidak perlu berpikir panjang untuk membawanya pulang. 🙂
Ternyata hampir setiap orangpun mengeluhkan hal yang sama. Sebuah acara di setiap malam hari di sebuah stasiun radio, banyak pendengar yang mengirimkan sms dan mengeluhkan hal yang serupa. Namun untunglah beberapa hari ini hujan mulai turun sehingga udara panas menjadi tidak terlalu panas. Saya jadi berfikir sendiri :
“Seandainya di dunia ini saja kita sudah merasa begitu kepanasan, lalu bagaimana kelak jika kita di padang Masar?” 🙁
Diposting juga dalam Ruang Tedy
halo teddy =)
salam kenal sebelumnya dari sahabat blogger mu ini ^^
oya ted,, minta izin buat mencopy foto dari postingmu ini,,,ku taruh di postingan blog ku…
silahkan berkunjung, ridho-dido.blogspot.com
edisi Jogja Terbakar Angin..
kalo ga berkenan,, nanti saya hapus.. okok^^
Ok mas idok…silahkan dicopy sesuka anda, dan jangan lupa dicantumkan sumber gambarnya 🙂