Hari Lebaran di Indonesia terasa berbeda dengan Lebaran di negara lain ( halah…seperti sudah pernah ke luar negeri saja
). Hari – hari itu rasanya menjadi hari yang pas untuk saling bersilaturahmi kepada keluarga, sahabat dan handai tulan yang mungkin hanya sekali setahun bisa bertemu dengan mereka.
Masing – masing tuan rumahpun telah siap dengan kue – kue dan snack, guna mereka suguhkan kepara para tamu yang datang ke rumah mereka. Tidak ketinggalan minuman sirup dinginpun disajikan guna menuntaskan dahaga para tamu. Namun sayang seribu sayang, seringkali minuman tersebut tidak diminum atau bahkan dihabiskan oleh sang tamu dengan alasan bermacam – macam. Umumnya yang terjadi adalah mereka menyisakan minuman yang disuguhkan kepada mereka meski hanya kurang dari separuh.
Entah sudah menjadi kebiasaan atau bagaimana. Sepertinya para tamu sangat gemar menyisakan minuman yang disuguhkan kepada mereka. Padahal mereka tahu bahwa minuman seperti itu tidaklah tiap hari disajikan tuan rumah. Pada hari – hari biasa mungkin tuan rumah hanya akan menyuguhkan minuman sekedarnya berupa kopi atupun teh. Namun pada hari lebaran, tuan rumah biasanya akan memyuguhkan minuman yang lebih “premium” dari biasanya . Namun sungguh disayangkan, meskipun sepele terkadang ulah tamu yang tidak menghabisakan minuman yang disuguhkan ini bisa membuat kecewa hati dari pemilik rumah.
Bagaimana tidak demikian, pasti kita sudah tahu, akan dikemanakan lagi minuman yang disisakan para tamu tersebut selain tidak dibuang? Sedangkan minuman tersebut sudah barang tentu dibeli dengan uang. Jadi sudah barang tentu bisa kita simpulkan bahwa tindakan para tamu menyisakan minuman yang disuguhkan kepada mereka itu adalah sama dengan menyia-nyiakan kebaikan dari tuan rumah, yang berarti itu sama saja menyia-nyiakan kebaikan dan pemberian Allah kepada mereka.
Mungkin analisa saya ini terlalu membesar – besarkan, namun sebenarnya tidak juga demikian jika kita nilai ini dari konteks yang berbeda. Karena seperti yang kita tahu kebiasaan menyisakan sesuatu ini tidak hanya berhenti disini. Namun seringkali juga kita jumpai di warung, kafe atau bahkan rumah makan. Seringkali kita melihat gelas – gelas yang masih tersisa dengan air minum. Piring – piring yang masih tersisa dengan nasi dan lauk yang belum habis dimakan, ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya. Meskipun mereka membayar semua makanan dan minuman itu dengan uang mereka sendiri, namun apakah bijak jika mereka membuang – buang makanan atau minuman sementara banyak saudara mereka di luar sana sedang kelaparan? Apakah mereka tidak menyadari bahwa makanan yang bisa mereka makan itu adalah rejeki yang diberikan Allah kepada mereka? Apakah mereka tidak tahu, ataukah pura – pura tidak tahu?

Saya sendiri sering prihatin bila menemui hal yang demikian. Memang benar mereka membayar makanan itu dengan uang mereka sendiri, dan itu menjadi urusan mereka dengan makanan itu, entah dimakan, dibuang atau bahkan di injak – injak, itukan urusan mereka sendiri dan bukan urusan kita. Rasanya egosime dan kesombongan telah merasuk kedalam pemikiran setiap manusia. Mungkin saja uang sekecil itu adalah remeh, namun itu sangatlah berarti bagi yang kekurangan. Sebulir beras mungkin tidak bisa mengenyangkan manusia, namun itu sungguh berarti bagi seekor semut.
Sepertinya kita harus lebih banyak – banyak lagi mengingat dan bersyukur atas pemberian Allah kepada kita. Mungkin harta dan kedudukan telah membuat kita sombong dan menganggap remeh semuanya. Tidak tahukah kita? bahwa harga dari Ikan asin yang kita bayar di warung hanyalah untuk mengganti upah nelayan, dan keuntungan pemilik warung beserta harga minyak gorengnya. Namun sudahkan anda membayar harga sebenarnya kepada pemilik Lautan dan segala isinya?
Manakah yang lebih tinggi, tubuh kita ataukah gunung yang berada di atas kita? Lebih lebar manakah, dada kita dengan samudera membentang ciptaanNya? Lebih besar manakah tubuh kita dengan Alam jagad raya ini? Lantas, masih pantaskah kita untuk bersombong?
Selayaknya kita harus sering – sering bercermin kepada diri kita ini. Karena jika kita ingin menginginkan perubahan yang berarti untuk negeri ini maka sebelum anda menuntut perubahan pada orang lain, terlebih dahulu ubahlah diri kita sendiri.
saya suka membaca artikel anda, ada kata yang meninggalkan jejak menikam jiwa merobek badai, jangan kau tanya kenapa