Jika puasa itu dianalogikan sebagai tempat, dan Allah menginformasikan tempat itu untukKu, maka tempat itu untuk dan dipenuhi oleh Allah. Lalu siapakah gerangan “wadah puasa” itu? Tidak lain ‘wadah puasa’ tersebut adalah mereka yang berpuasa. Mereka yang menjalankan syariat berpuasa telah menjadikan dirinya suatu wadah dimana Allah-lah yang memenuhinya.
Selama kita menikmati kerelaan untuk tidak menikmati sesuatu konsumsi, maka konsumsi yang kita tolak akan digantikan oleh Allah. Selama kita relakan puasamu yang sengsara itu untuk diri Allah. Maka selama itu detak jantungmu akan benar – benar dikaribi oleh Allah. Allah-lah yang kemudian menjadi muatan utama dari semua gejala dan realitas yang ada dalam diri mereka yang berpuasa.
Secara satuan waktu, puasa adalah ibadah yang luar biasa lamanya dibandingkan ibadah yang lain, berkisar kurang lebih 12 jam, dimana Allah bersamamu mulai dari makan sahur, sholat shubuh, sampai nanti engkau berbuka waktu maghrib. Maka tinggal kita mohonkan kepadaNya agar Allah tidak meninggalkan kita pada saat isya, ketika kita tidur hingga kemudian terbangun sahur pada keesokan harinya untuk kembali memulai puasa.