Manusia – manusia modern berteriak-teriak memperjuangkan yang disebut kebebasan, memperjuangkan yang mereka sebut dengan hak asasi dan demokrasi. Meyakini seyakin – yakinnya bahwa ia sangat bebas untuk menentukan pilihannya dan nasibnya sendiri. Hingga kemudian aturan konstitusi dasar di-amandemen, dengan memperbanyak pasal – pasal tentang Hak Asasi Manusia.
Lantas dengan dalih hak asasi pula kemudian, muncullah yang disebut gerakan feminisme, dengan asumsi bahwa wanita sama dengan laki – laki dalam segala hal sehingga bisa saling menggantikan satu dengan yang lain. Yang hingga kemudian menjerumuskan perempuan untuk keluar dari kodratnya, dieksploitasi menjadi tidak lebih dari mesin – mesin produksi
Bahkan dalam Undang – Undang terdapat jatah 30% perempuan yang harus duduk di anggota DPR. Yang jika kita pikir lebih cermat ternyata justru malah merendahkan derajat perempuan, karena asumsinya adalah perempuan dianggap tidak mampu bersaing dengan laki – laki sehingga harus ada yang namanya kuota 30%,.
Buntut dari yang disebut hak asasi kemudian sangatlah panjang. Pergaulan bebas, hubungan sesama jenis dan lain sebagainya – semuanya adalah dengan dalih HAM yang kita agung – agungkan. Manusia bebas melakukan apapun selama tidak merugikan siapa pun. Bukankah begitu?
Adapula yang disebut dengan kebebasan berekspresi dan berbicara. Freedom of speak, begitulah kata orang-orang barat. Dengan dalil itu pula kemudian mereka merasa berhak berbicara apapun. Bahkan hingga merendahkan simbolisme agama-pun dirasa juga tidak ada masalah.
Seandainya nanti kita diberikan kesempatan bertemu orang – orang seperti ini, maka lontarkan saja segala macam umpatan caci maki ataupun pisuhan kepada dia. Dan jika ia kemudian marah, maka katakan juga ini adalah bagian dari ‘freedom of speech’
Jadi Ijinkanlah saya mengatakan padamu : bahwa sebenarnya yang engkau sebut ‘Hak Asasi Manusia’ itu hanyalah tipuan. Karena manusia sebenarnya tidak memiliki hak apapun atas dirinya. Manusia hanyalah sekedar mendapatkan titipan selama kehidupannya di dunia. Inna lil-lahi wa ina ilaihi rajiun. Kita ini milikNya, dan akan kembali kepadaNya
Jika kita dari dulu kala dan sampai akhir nanti, adalah sepenuhnya milik Allah dan sama sekali tidak memiliki diri kita sendiri, maka apakah mungkin kita benar – benar memiliki diri ini, alam ini, tanah dan air ini, kayu, dan logam ini , harta, jabatan dan kekuasaan ini?
Maka kata Hak Asasi ataupun hak milik yang tertera dalam pasal – pasal hukum, dalam kehidupan sosial dan kebudayaan manusia pastilah hanya sekedar anggapan subjektif manusia. Dikarenakan memang manusia terlalu mudah GR terhadap dirinya sendiri.
Terlebih kosakata Hak, berasal dari kata Al Haqqu yang artinya kebenaran, Hak Milik adalah Kebenaran tentang milik, Hak Asasi adalah Kebenaran yang paling Asasi yang ada di Manusia. Jadi jika kita benar – benar mengingat akan fakta historis terciptanya manusia, alam dan seisinya. Maka jika kemudian ia merasa ‘memiliki’, maka itu adalah hanya omong kosong.
Jadi bagaimana mungkin kita bisa punya rasa memiliki diri sendiri, sehingga dengan alasan itu kita merasa pantas memperlakukan diri ini semau kita?
Apakah aku dan engkau merasa diri ini lebih ahli, lebih pintar, lebih jago, lebih kuasa dibandingkan dengan Pemilik Yang Menciptakan dan Meminjamkan ini semua kepadamu?
Inspirasi:
Tuhanpun Berpuasa – Emha Ainun Nadjib