Perenungan, Sosial Politik

Kembalilah ke Kartini-mu Yang Sejati

kartini_1Selamat Pagi. Baru kali ini saya kembali aktif mengisi blog saya ini, setelah terbengkalai beberapa bulan. Maklum, kini lebih aktif di micro-blogging twitter, jadinya blog ini agak terbengkalai 🙂

Memperingati Hari Kartini, saya ingin sekedar berbagi tentang sosok Kartini. Tulisan ini hanya melengkapi #kultwit saya kemarin malam tentang topik yang sama, silahkan disimak di sini . Profil singkat Kartini bisa dibaca di sini

Sering kaum wanita menyalahartikan perjuangan Kartini sebagai perjuangan “Emansipasi Liberal” yang sebagaimana yang didengung-dengungkan oleh kaum feminis selama ini.

Emansipasi Liberal menyamakan arti kesetaraan Laki-laki dan perempuan dengan semua pekerjaan pria bisa dilakukan oleh wanita. Jika sudah begitu, maka hilang fitrah/kodrat nya dia sebagai seorang wanita.

Bagaimanapun jangan terlalu dipaksakan untuk sama. Karena memang sejatinya laki-laki dan wanita itu berbeda. Jika diibaratkan sebuah pertandingan tim sepak bola. Laki –laki dan perempuan adalah setara (sama-sama pemain) namun memiliki tugas yang berbeda. Yang satu tugas sebagai kiper, sedangkan satunya striker. Semuanya tujuannya sama untuk memenangkan pertandingan, tapi untuk mencapai itu, mereka harus bekerja sama, meski berbeda tugas. Striker misalnya, bertugas menyerang gawang lawan. Begitupun Kiper bertugas menjaga gawangnya agar jangan sampai kebobolan. Mana yang lebih mulia? Semuanya sama-sama mulia jika mengerjakan tugasnya dengan baik.

Nah, Emansipasi Liberal mengajarkan bahwa menjaga gawang itu pekerjaan rendahan, dan pekerjaan yang tinggi itu adalah nyerang gawang lawan dan ngegolin.  Akhirnya, dari ajaran ini, kiper jadi berambisi untuk ikut nyerang gawang lawan, sehingga lupa gawang sendiri tidak dijaga. Hasilnya? Bisa ditebak sendiri 🙂

Jadi, memang laki – laki – perempuan secara kodratiah berbeda. Tentu hal ini bukan tanpa tujuan. Kenapa juga Tuhan repot-repot menciptakan perempuan jika kemudian ternyata sama saja sehingga mereka bisa menggantikan satu sama lain? Wanita diciptakan dengan kekurangan dan kelebihannya, begitupun laki – laki. Ada porsi – porsi yang hanya bisa dikerjakan oleh perempuan, ada porsi yang hanya bisa dilakukan hanya oleh laki – laki. Dan ada hal – hal umum yang bisa dilakukan oleh keduanya.

Nah, kaum wanita haruslah kritis, dan mampu menggali makna/esensi, “apa sih yang diperjuangkan Kartini itu?” Silahkan simak dan baca kumpulan surat-surat Kartini seperti kutipan surat berikut tertanggal 4 Oktober 1902

“Kami mohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan. Bukan sekali-kali kami ingin anak perempuan menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tetapi kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum perempuan, lebih cakap melakukan kewajibannya menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama,”

Jadi sederhananya, perjuangan Kartini adalah tentang merumuskan arti pentingnya pendidikan untuk wanita, bukan untuk menyaingi kaum laki-laki – seperti yang diyakini oleh pejuang feminisme itu-  namun untuk lebih cakap menjalankan kewajibannya sebagai ibu.

Memang kewajiban sebagai Ibu adalah tanggung jawab sangat berat. Karena itulah Islam meletakkan wanita pada posisi yang luar biasa. Bagaimana tidak luar biasa jika ada hadist yang menyebutkan: ”Surga berada di telapak kaki Ibu” (dan bukannya bapak) . Dan ketika ditanya siapakah yang harus di hormati di dunia ini, sebuah hadist memberikan peringkat : 1. Ibumu 2. Ibumu. 3. Ibumu 4. Bapakmu.

Pengangkatan Nilai/harkat wanita disini bukannya tanpa alasan. Dibalik ini, tentu ada sebuah tanggung jawab yang berat yang hanya mampu disandang oleh seorang wanita. Seperti kata hadist bahwa “Wanita adalah Tiang Negara, jika baik wanita, maka baik pula negara. Jika hancur wanita maka hancur pula negara”. Kenapa? Jika saya boleh memberi tafsir, salah satunya adalah karena wanita memegang masa depan sebuah negara melalui anak  – anak yang dididiknya. Jika mereka salah mendidik, maka akan hancur anak – anak (yang merupakan generasi penerus bangsa), sehingga hancur pula negara.

Jadi saya tidak habis pikir, jika ada wanita yang menganggap pekerjaan rumah tangga (mengurus anak dan lain-lain) itu pekerjaan rendahan, karena justru pekerjaan seperti itulah yang dimuliakan oleh Tuhan. Mereka para wanita malah sibuk merintis karir seperti mesin – mesin industri hingga hilang kodrat kewanitaanya : untuk menjadi ibu  bagi anak – anaknya dan istri bagi suaminya. Lalu apa kabar nasib anak  – anaknya? Hanya diserahkan kepada pembantu.

Kasih Ibu sepanjang beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak berharap kembali. Bagaikan surya menyinari dunia

Begitu lirik sebuah lagu yang sering dinyanyikan anak-anak di Taman Kanak-kanak. Saya belum pernah mendegar sebuah lagu serupa tentang bapak, selain lagunya Ebiet G Ade. Kenapa? karena Ibu lebih memiliki daya Cinta Kasih. Perasaanya yang halus ini yang tidak dimiliki laki – laki. Sedangkan Laki – laki lebih memiliki logika yang tajam, jadi untuk suatu keputusan yang logis, laki – laki lebih paham (karena itu laki – laki didaulat sebagai pemimpin rumah tangga).

Menjadi pemimpin rumah tangga tidak serta merta identik dengan laki – laki berada diatas. Sama sekali tidak. Laki – laki dan perempuan itu setara, tapi sebagaimana sebuah tim sepakbola, tentu harus ada yang ditunjuk sebagai kapten pertandingan. Dan dalam kondisi rumah tangga, tentu kapten pertandingan adalah suami (berdasarkan sifat kodratiah tadi).

Kesimpulan

Jadi apa kesimpulannya? Kesimpulannya. Laki – laki dan perempuan setara, namun memiliki kewajiban yang berbeda dalam rumah tangga. Suami mencari nafkah untuk anak – istri, sedangkan Wanita, bertugas  menjaga kehormatan, dan mengatur urusan rumah tangga (serta anak – anaknya). Ini yang pokok. Jika hal yang pokok sudah dikerjakan, maka boleh saja istri membantu pekerjaan suami mencari nafkah (selama tidak menganggu tugas pokoknya), begitupun dengan lelaki.

Rumah tangga bisa dianalogikan seperti tim sepak bola tadi, masing – masing pemain memiliki tugas masing – masing dan harus saling bekerjasama karena masing – masing mereka memiliki spesifikasi khususnya sendiri-sendiri. Begitulah Tuhan menciptakan laki – laki dan perempuan untuk saling berpasang-pasangan (ingat berpasangan!) bukan untuk saling mengungguli satu sama lain.

Di bagian akhir, seperti dalam judulnya, Saya berharap. masing – masing wanita kembali ke Kartini-nya masing – masing. Dalam artian kembali ke hakikat perjuangan yang diinginkan Kartini itu seperti apa? Kartini yang pribumi asli Indonesia. Bukan ‘Kartini’ yang cuman kedok dari Emansipasi Liberal yang hanya akan menjatuhkan nilai kodratnya sebagai wanita

1 thought on “Kembalilah ke Kartini-mu Yang Sejati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.