Keseharian, Perenungan

Masalah – 2

Tulisan ini menjelaskan tulisan singkat saya sebelumnya.

Kita semua, manusia dalam hidup,  pasti pernah – bahkan sering mengalami rasa kecewa, sakit hati dan keputus-asaan. Ini adalah suatu sikap yang wajar- wajar saja dan normal, karena  memangTuhan menciptakan manusia dengan segala kesempurnaan dan juga keterbatasan.

Kegagalan, sakit hati dan kekecewaan memang harus dialami manusia sebagai sebuah proses. Proses menuju manusia yang lebih kuat dan lebih sempurna. Keramik tidak akan pernah menjadi keramik, jika belum pernah dibakar dalam tungku pembakaran. Pedang pun tidak akan pernah menjadi tajam, tanpa dipanasi serta ditempa. Begitupula nasi tidak akan pernah menjadi matang jika tidak pernah ditanak.

Meminjam dari sebuah kalimat bijak

“Happiness is not the absence of problems but the ability to deal with them”

Kebahagiaan itu bukan dengan tidak adanyamasalah tetapi kemampuan mengatasi masalah – masalah tersebut” (Anonymous)

Hal penting tentang masalah adalah bukan jalan keluarnya, tetapi adalah kekuatan yang kita peroleh ketika kita menemukan jalan keluarnya

 Stephen R. Covey, penulis buku laris “The Seventh Habit” mengatakan,

“The way we see the problem is the problem”,

Ya benar, masalah kita sebenarnya adalah bagaimana cara pandang kita terhadap masalah itu sendiri. Karena hidup tanpa masalah adalah omong kosong. Itu hanya ada dalam dongeng.

Jika setiap masalah kita pandang semata-mata sebagai sesuatu yang mengganggu hidup kita, maka jelas sekali bahwa anda tidak akan pernah berbahagia dan akan selalu berkeluh kesah. Namun bagaimana jika yang kita pandang sebaliknya, yakni melihat dari sudut yang sama sekali berbeda, dari sudut yang seringkali orang tidak mau lihat.

Yang terjadi adalah kita  akan menemukan banyak sisi  positif.  Inilah yang disebut sebagai the strength, kekuatan yang membuat kita menjadi lebih dewasa, lebih ‘arif, dan lebih tangguh.

Sebenarnya, masalah -masalah yang kita hadapi adalah pengantar kesempurnaan dan kemajuan kita. Cambukan-cambukkan hidup justru akan melahirkan gerakan, potensi dan gairah semangat. Seperti yang dikatakan sang guru Jallaludin Rumi:

Sesuatu itu tersembunyi pada kebalikannya

kehidupan tersembunyi di balik kematian dan cobaan

Rumi mengatakan bahwa segala sesuatu itu tersembunyi pada kebalikannya, sebagaimana makna sehat akan anda rasakan ketika sakit, makna makan dan minum akan anda temui ketika anda merasakan lapar dan dahaga, begitu pula kebahagiaan sejati sebenarnya sedang tersembunyi di balik semua penderitaan dan musibah. Kesulitan dan bencana memang sebuah keniscayaan untuk kesempurnaan manusia.

 Imam Ali berkata,

“Sesungguhnya pohon-pohon di padang tandus lebih kuat batangnya, sedangkan yang hijau menawan jauh lebih lunak. Demikian pula kayu pepohonan di tempat-tempat yang gersang lebih kuat nyala apinya dan lebih lambat padamnya.”

(Muhammad al-Baqir, Mutiara Nahjul Balaghah, hal. 93-95, Syarif Radhi, Nahjul Baghah, surat ke 45.)

Sayyidina Ali bin Abi Thalib as berujar,

Pohon-pohon yang tumbuh di padang tandus atau di hutan liar, yang tidak diawasi dan tidak dipelihara, ternyata batang-batangnya lebih kuat dan usianya lebih panjang. Sebaliknya, pohon-pohon yang tumbuh di taman-taman yang selamanya dipelihara oleh tukang kebun dan senantiasa dirawat ternyata lebih rentan di dalam menghadapi kesulitan dan usianya lebih pendek”.

Semakin kita matang, dewasa, dan ‘arif, maka semakin mudah kita menemui kebahagiaan. Sebaliknya, jika kita terlalu dimanja dengan kemudahan demi kemudahan maka itu sesungguhnya akan membuat kita menjadi lemah, membuat kita tak dapat mengenali masalah-masalah baru.

Begitulah, masalah diciptakan tidak lain merupakan bagian dari rahmat Allah, dan hanya mereka yang pandai-pandai bersyukurlah yang bisa menyadarinya

Tagged

1 thought on “Masalah – 2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.