Aku tahu, telah membuatmu begitu terluka. Aku tahu, telah membuatmu begitu bersedih. Aku tahu itu semuanya. Tapi apakah engkau tahu, hatiku bak tersayat sembilu ketika melihatmu menangis. Apakah engkau tahu, akupun juga berteman perih ketika engkau bersedih?
Aku tahu, aku sampah, engkaupun tak mau melihatku lagi, bahkan untuk mengingatkupun engkau enggan. Aku kotor, hina, sehingga mungkinpun tidak lagi sederajat dengan dirimu yang anggun bak putri raja.
Aku tahu, aku hanyalah bak bayang – bayang sedang jatuh cinta kepada mentari. Saat mentari terbit, bayang – bayang menghilang. Bayang – bayang tidak akan ingin mengganggu keindahan mentari dalam memancarkan sinarnya di muka bumi. Bayang – bayang akan menyisih pergi kala sang mentari datang.
Bayang – bayang hanyalah bayang – bayang. Hidupku sekarang tidak lebih dari bayang – bayang bagimu. Bayang – bayang yang harus menyisih ketika keanggunanmu datang menyinari kota. Bayang – bayang yang harus rela terbuang, tersisih, dan tertinggal di sudut jaman.
Jika saja, sekarang dirimu disini. Yang akan kuperbuat ialah berlutut didepanmu, sembari kuserahkan mawar dan juga sebilah pisau. Ambilah mawar yang merah ini untuk menemani merahnya pipimu, jika engkau sudi untuk menerimaku kembali. Namun ambilah pisau, hunuskan ke jantungku jika engkau masih terluka dan tidak ingin mengingatku lagi. Biarkan merah darahku ini menjadi penebus luka, dan sakit hatimu.
Karena adalah lebih baik aku mati di tanganmu daripada aku harus mati karena tidak kuasa lagi menanggung rindu kepadamu.
Aku juga tahu kalao kau mau tahu, tapi apakah kau tahu kenapa aku tak bw lama sekali ? hehe…..salam dari pekalongnan. Di tunggu cerita cinta yang lain.
_________
Tedy : Salam pak 🙂
a good story,,,
dengan bahasa yg sederhana tapi punya makna yg dalam,,,
jelas banget klu yg nulis lg sakit hati,,,
________
Tedy: hahah. tahu saja 🙂